LANDAK kerap dikaitkan sebagai hama bagi petani. Namun imej itu kini telah berubah. Hewan berkulit duri ini dalam tiga tahun terakhir justru menjadi ‘mesin uang’ warga di Aceh Singkil dan Subulussalam. Batu geliga yang terkandung dalam tubuh landak menjadi pemicu warga memburunya, karena disebut-sebut bernilai amat fantastis. Banyak yang mengaku mendadak kaya, lalu tidak sedikit pula yang beralih profesi menjadi peternak. Lantas, bagaimanakah bisnis batu landak (geliga) ini awalnya muncul?

batu landak“Ada landak yang sudah berisi (batu-red), setelah disembelih hilang lagi. Saya pernah mengalaminya. Waktu itu ada 19 ekor (landak) berisi (batu). Tau-taunya setelah disembelih tujuh ekor hilang. Makanya bisa dikatakan batu landak ini seperti mustika, ada muatan gaibnya,” kata Ishar. Lelaki ini adalah peternak landak di Kota Subulussalam. Dia telah menekuni bisnis  ‘ajaib’ ini sejak beberapa tahun lalu.

Sejak tiga tahun belakangan landak memang menjadi hewan paling diburu di tanah berjuluk Bumi Sada Kata. Bagi yang meyakini, landak kini seolah menjadi ‘mesin uang’ karena memiliki batu geliga di tubuhnya. Batu itulah yang diincar warga karena harga jualnya yang fantastis

Tidak hanya di Subulussalam. Perburuan batu geliga landak juga terjadi di Kabupaten Aceh Singkil. Bahkan ada warga yang tak perlu lagi ke hutan mencari landak. Sebab, habitat landak kini sudah dipelihara dalam sistem penangkaran. Rezeki nomplok dari usaha geliga landak bukan hanya isapan jempol. Peternak seperti mendapat durian runtuh. Dari bisnis ini, ada di antaranya yang mampu membeli mobil, sepeda motor, hingga kebun.

Landak hasil tangkapan di Subulussalam dikabarkan paling mahal, mencapai Rp 1 juta per ekor. Sedangkan landak dari luar daerah seperti Padang, Meulaboh atau Blangpidie dan lainnya berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per ekor. Sedangkan landak yang telah dipelihara (penangkaran) bisa mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per ekor.

Heboh batu landak yang bernilai tinggi ini mulai tersiar sejak pertengahan 2010. Saat itu belum banyak warga yang tergiur memburu atau memelihara. Namun pada awal 2011, isu batu landak (geliga) terus bergulir hingga 2012 setelah adanya beberapa petani dan pemburu berhasil menemukan batu landak.

Isu batu landak semakin menjadi perbincangan pada 2013. Saat itu dari sepuluh peternak atau pemburu, sekitar 70 persen berhasil mendapat keuntungan fantastis dari hasil penangkaran binatang berkulit duri ini. Warga pun mulai banting stir ramai-ramai beternak. Jika saja ada empat ekor landak, bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dalam kurun waktu tujuh bulan, tentu jika Anda beruntung. Sebab, satu batu landak berkualitas super harganya bisa tembus ratusan juta rupiah. 

“Kalau dapat yang berkualitas tinggi harganya sampai Rp 2,5 juta per gram,” kata seorang peternak kepada Serambi ketika ditemui di sebuah penangkaran, Sabtu 23 Agustus 2014. Penjualan batu landak menggunakan cara hitungan gram layaknya membeli emas dan permata. Untuk batu berkualitas super dihargai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per gram. Sedangkan kualitas sedang berkisar Rp 600 ribu-Rp 900 ribu. Rata-rata batu landak yang ditemukan warga berkisar antara 70-300 gram.

Maraknya warga yang sukses meraup rupiah membuat bisnis batu landak di Subulussalam, lebih mempesona dibanding bisnis sarang walet. Kondisi ini memicu masyarakat termasuk pengusaha ikut mengadu peruntungan.

Beberapa peternak landak mengatakan batu geliga berkualitas super sebetulnya terbentuk secara alami. Biasanya batu geliga ini ada pada landak hasil tangkapan dari hutan. Namun, untuk batu landak alami ini tidak mudah ditemukan. Karena itu warga berinisitif menghasilkan batu geliga secara instan lewat landak yang khusus dipelihara. Seekor landak bisa menghasilkan batu dalam kurun enam hingga tujuh bulan.

Seorang peternak kepada Serambi mengaku mampu menghasilkan hingga Rp 70 juta dari memelihara 30 ekor landak, dengan modal sekitar Rp 10 juta. Modal ini digunakan untuk membuat kandang dan membeli landak. “Biaya membuat kandang sedikit tinggi, karena harus terbuat secara permanen dicor dengan semen dan berlantai keramik,” tuturnya.

Bisnis landak dan batu geliga juga ditekuni keluarga Ishar. Lelaki ini bersama anaknya kini memelihara sekitar 70 ekor landak. “Salah seorang saudara saya sudah berhasil meraup Rp 235 juta dari seekor landak alami yang berisi batu (geliga) kualitas super,” kata Ishar kepada Serambi awal pekan lalu. Ishar mengaku batu landak yang ditemukan secara alami saat ini harganya bisa mencapai Rp 2,5 juta per gram. Sementara untuk batu geliga dari landak dalam penangkaran berkisar Rp 900 ribu per gram dari harga sebelumnya mencapai Rp 1,5 juta. “Sudah terjadi penurunan harga dari sebelumnya,” katanya.

Ishar menyebutkan, dia mulai tertarik bisnis penangkaran landak sejak awal tahun lalu setelah melihat banyak warga yang berhasil dari usaha itu.

Landak memiliki struktur kulit berduri yang menutupi tubuhnya dengan panjang berkisar 40-50 centimeter dan berat 10-20 kg. Sejak tiga tahun lalu, keberadaan landak kerap dikaitkan sebagai hama bagi petani sawit. Namun kini landak justru diburu karena punya nilai ekonomi tinggi.

“Landak hasil tangkapan ini dijual kepada penampung dan peternak,” ujar Sabar, peternak landak di Subulussalam.

Hasil pantauan dan informasi yang dihimpun Serambi, ada puluhan warga di Kota Subulussalam yang membuat penangkaran landak. Sejumlah peternak membuat kandang landak dengan lantai dilapisi semen cor dengan beberapa bilik berukuran 2×2 meter persegi yang mampu menampung 6 hingga 8 ekor landak. Kebersihan kandang landak tersebut juga harus terjamin. Bahkan, kandang landak dilengkapi dengan parit dan closet pembuangan air dan kotoran. Pembersihan dilakukan setidaknya dua kali dalam sehari menggunakan air bersih.

“Kotoran dan urine landak tidak boleh menumpuk di lantai lantaran bisa membuat ternak mati,” ujar seorang peternak. Kecuali itu, setiap kandang juga dilengkapi penerangan secukupnya. Sementara untuk pakan biasanya berupa campuran serabut pohon kelapa muda dengan tepung kanji atau terigu serta ubi. Sedangkan pakan lainnya berupa buah kelapa sawit. Pakan bercampur serabut itu dilakukan hingga tiga dan empat bulan.

Setelah dipastikan berisi batu geliga landak akan dipisah atau dikarantina. Untuk mengetahui seekor landak telah berisi batu geliga bisa dengan cara dikusuk oleh seseorang yang ahli. Di tempat karantina itu landak mulai diberi pakan ubi dan air minum secukupnya agar batu geliga lebih cepat mengeras layaknya keramik.

Sumber tulisan : aceh.tribunnewsdotcom