Limbah sawit: pelepah, daun, dan bungkil inti sawit, sudah lama menjadi masalah di Desa Sebelat, Bengkulu. Namun, sekarang limbah itu justru menjadi sumber pakan ternak istimewa. Selain membuat sapi-sapi lebih kuat, pertambahan bobot mencapai 0,6 kg/hari.

Desa Sebelat salah satu daerah inti plasma sawit binaan PT Agricinal dengan luasan lahan tertanam mencapai 6.000 hektar. Di sanalah John-penduduk setempat-mengandalkan sapi bali untuk membawa buah segar sawit. ‘Seekor sapi bisa mengangkut 200 kg tebas buah segar (TBS),’ ujar John. Total jenderal ada 299 pemetik sawit seperti John dengan 3.000 sapi.

Selama ini sapi-sapi itu hanya diberi pakan hijauan. Pelepah dan daun sawit dibiarkan mengering tidak termanfaatkan. ‘Lahan sawit jadi kotor,’ kata Bungaran P Manurung, kepala Bidang Peternakan PT Agricinal. Dengan pakan hijauan seringkali sapi-sapi itu mogok berjalan saat membawa TBS ke tempat penampungan sawit. ‘Jalannya terjal sehingga sapi-sapi seperti kelelahan. Tapi setelah diberi pakan sampah sawit jalan mereka lebih kuat,’ tambah Bungaran.

Pelepah dan daun

Limbah sawit merupakan alternatif baru pakan ternak yang kaya gizi. Menurut Prof Dr Ir I Wayan Mathius MSc, 70% limbah sawit dapat dimanfaatkan ruminansia sebagai pengganti pakan hijauan: rumput dan jerami. Yang dimaksud limbah adalah pelepah, daun, dan batang sawit. Berdasarkan penelitian Mathius setiap pohon sawit menghasilkan 22 pelepah/tahun dengan bobot masing-masing 7 kg. ‘Sehektar lahan dengan 130 pohon kelapa sawit bisa didapat 20.020 kg pelepah segar/tahun,’ ucap koordinator Program Penelitian Balai Penelitian Veteriner di Ciawi, Jawa Barat, itu. Dari pelepah itu terkandung 26,06% bahan kering atau 5.271 kg/ha yang mudah dicerna sapi.

Setiap pelepah menghasilkan 0,5 kg daun yang bermanfaat sebagai pakan hijauan. Angka itu setara dengan 658 kg/ha/tahun bahan kering daun. Limbah lain yang dapat digunakan adalah batang. Namun, penggunaannya tergantung waktu peremajaan pohon-setelah melewati umur produktif, 25 tahun. Sayangnya, kandungan nutrisi pada batang dan dampaknya terhadap ternak belum diteliti lebih jauh.

Saat pengolahan TBS dari lahan seluas 1 ha dapat diperoleh hasil ikutan (dalam bentuk bahan kering) berupa 1.132 kg lumpur sawit (solid), 514 kg bungkil inti, 2.681 kg serat perasan, dan 3.386 kg tandan kosong. Hasil ikutan itu dapat dipakai sebagai pakan tambahan. Total jumlah limbah dan hasil ikutan pengolahan TBS menghasilkan pakan sebesar 12.950 kg/ha. Angka itu lebih tinggi dari daya konsumsi bahan kering sapi yang hanya 3,5% dari bobot tubuh.

Kaya nutrisi

Bukan tanpa alasan limbah sawit dipakai sebagai pakan. ‘Kandungan nutrisinya lebih baik daripada pakan hijauan,’ kata alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor itu. Pelepah dan daun pun kaya serat. Bahkan dalam jangka panjang pemberian pelepah dapat meningkatkan kualitas karkas. Idealnya sapi butuh 13% protein. Angka itu tercukupi dari bungkil inti sawit yang nilai proteinnya mencapai 14-16%. Sumber protein lain adalah lumpur sawit (solid) sebesar 12%, serat perasan 6%, dan tandan kosong 3%.

Pakan limbah sawit tidak dapat diberikan langsung. Limbah diolah dengan dicacah, digiling, dan diberi tekanan uap yang dikombinasikan dengan perlakuan kimia-pemberian NaOH dan Urea-serta biologis (fermentasi). Pencacahan dilakukan pada pelepah dan daun. Selain dicacah, agar kandungan nutrisi pelepah meningkat dilakukan proses aminiasi, penambahan molases, alkali, pembuatan silase, tekanan uap tinggi, dan peletisasi. Secara kimiawi, penambahan 8% NaOH dapat meningkatkan daya cerna bahan kering pelepah menjadi 58% dari 43,2%. Bahan jadi itu kemudian dibentuk kubus dengan ukuran 1-2 cm3.

Menurut Mathius pencacahan dilakukan agar lidi daun yang sulit dicerna sapi terpisah. Setelah dikeringkan daun digiling lalu dibuat seperti pelet. Agar kecukupan nutrisi terpenuhi, limbah dan pengolahan sampah TBS dicampur menjadi satu dengan memakai teknologi fermentasi. Setelah itu dibentuk seperti balok. Penelitian Mathius menunjukkan perbandingan cacahan pelepah, solid, dan bungkil inti sawit 1:1:1 mampu meningkatkan bobot sapi 0,338 kg/hari. Namun, jika dikombinasikan dengan teknologi fermentasi dan penambahan mineral serta vitamin, peningkatan bobot menjadi 0,6 kg/hari.

Suplemen pakan

Di luar limbah sawit, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak juga dikembangkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Bahan yang dipakai campuran Urea, molase, onggok, dedak, tepung tulang, lakta mineral (kalsium dan sulfur), garam dapur, tepung kedelai, dan kapur. Berdasarkan uji lapangan pada peternak di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Lampung, diperoleh kenaikan bobot 1,2 kg/hari untuk sapi simental dan 0,8 kg/hari sapibali.

Lantaran harga molase dan kedelai terus meningkat, belakangan dilakukan perubahan komposisi dengan mengurangi persentase kedua bahan itu. ‘Molase dari 23-29% dikurangi menjadi 10% dan bungkil keledai sebesar 13-15% menjadi 3-5%,’ kata Ir Suharyono, M.Rur SCi, peneliti senior kelompok nutrisi ternak Batan. Dari hasil pengujian menunjukkan pengurangan molase dan kedelai tetap mampu menaikkan bobot sapi. Pemberian suplemen pakan itu sebanyak 0,25-0,5 g per hari membuat bobot sapi simental naik sebesar 0,8 kg dan sapi bali 0,75 kg.

Selain bobot meningkat, pakan yang terserap sempurna dapat menekan gas metan yang dikeluarkan sapi. Itu lantaran mikroba dalam rumen berkerja optimal mencerna pakan. ‘Dari 23% metan fermentasi yang dikeluarkan ruminansia, sebanyak 73% berasal dari sapi,’ kata Suharyono. Namun, dengan pemberian suplemen pakan itu, kadar metan turun sebesar 65%. Itu artinya pemanasan global pun bisa ditekan berkat kehadiran pakan dari limbah sawit. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber : http://www.trubus-online.co.id