Pertemuan 50 petani kelapa sawit Indonesia dan Papua Nugini yang membicarakan posisi mereka dalam rantai produksi sawit, Senin (17/11) di Grand Hyatt, Nusa Dua merupakan bagian dari perjuangan menjaga alam ini tetap seimbang.

Lebih dari itu, pertemuan pendahuluan Task Force on Smallholders (Kelompok Kerja Petani Kecil) sebelum sesi utama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini membuka ruang bagi petani untuk masuk ke dalam proses produksi dan menempatkan mereka setara dengan kelompok lainnya dalam proses sertifikasi.

”Kami berharap pertemuan hari ini dapat memastikan Prinsip dan Kriteria yang ditetapkan  RSPO sesuai untuk situasi para smallholder yang rumit dan beragam sesuai situasi yang dihadapi,” jelas Norwan Jiwan, peneliti dari Sawit Watch yang memfasilitasi pertemuan ini.

Standar generik yang ditetapkan RSPO dipandang oleh ketua-ketua Gugus Tugas tidak  praktis. “Menurut kami panduan generik tentang smallholder harus dihentikan, sampai dengan ada modalitas yang disepakati untuk sertifikasi kelompok smallholder mandiri dan telah diuji coba untuk melihat apakah sesuai dengan realitaS smallholder

“Bagi kami petani, tidak mudah untuk memiliki dokumentasi yang sama untuk diperiksa oleh auditor.” Papar  Cion Alexander, Petani Sawit Kalbar. Tantangan utama Sertifikasi diantaranya bagaimana mengembangkan protocol, bagaimana berkomunikasi dengan petani sawit tentang hal ini, bagaimana mengorganisirnya dan apa saja persyaratan yang diperlukan untuk melakukan pemasaran gabungan.

Jiwan menegaskan, pendekatan sertifikasi yang ditetapkan RSPO harus berdasarkan pada pendekatan pabrik dan sumber penyedia bahan mentah. ”Perlu dibedakan dengan pendekatan lain, dengan pendekatan ini, artinya apa pun materi yang masuk ke dalam pabrik harus dapat dilacak dari mana asalnya” jelasnya lagi.

Dalam pertemuan ini petani membahas isu yang dihadapi sehari-hari dan memahami bagaimana dunia melihat posisi petani sawit.” Situasi yang dihadapi petani sawit alami tidak lepas dari kepentingan pasar,  seperti saat ini harga turun karena kepentingan pasar sangat dominan.” tambah Jiwan.

Diskusi dalam Gugus Tugas Petani meninjau kembali kesesuaian Prinsip dan Kriteria yang dikeluarkan oleh RSPO untuk petani (smallholder) dan memformulasikan usulan yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi petani secara.

”Kalau prinsip dan kriteria sesuai dengan kondisi kami, bisa dipastikan masin banyak petani sawit yang dapat terlibat langsung dalam produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan.” tambah Tereng lagi.

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)  merupakan prakarsa yang dibentuk para pelaku bisnis, yang terlibat dalam produksi, pemrosesan dan penjualan minyak kelapa sawit bersama LSM lingkungan dan sosial sebagai tanggapan atas kritik bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan penyebab utama penggundulan hutan dan prosesnya seringkali tidak mempedulikan hak-hak, sumber penghidupan atau kesejahteraan dan hak-hak para pekerjanya dan petani plasma (smallholder).

Sumber : Kompas.com