Minyak kelapa telah lama digunakan oleh nenek moyang penduduk Asia, Kepulauan Pasifik Afrika dan Amerika tengah sebagai makanan utamanya. Mereka jarang menderita penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, arthritis dibandingkan dengan orang Amerika Utara dan Eropa yang tidak menggunakan kelapa.
    
Minyak tropis yang berasal dari spesies-spesies pohon palem ini, dikenal sebagai minyak kelapa, minyak sawit dan minyak sawit kernel. Minyak sawit yang berwarna oranye tua berasal dari kulit atau sabut buah yang mengelilingi bijinya, didapatkan dengan cara pengepresan, pemanasan dan penguapan. Minyak sawit kernel diambil dari biji kecil sebesar ibujari seperti buah kelapa putih-kecil. Secara tradisionil, minyak kelapa diekstraksi dari kelapa segar dengan pemasakan dengan air maupun kelapa kering dengan pengepresan atau pemanasan/ pemasakan. Dengan proses sederhana ini minyak kelapa menjadi sumber utama minyak sayur orang-orang di daerah tropis selama ratusan tahun.

Minyak kelapa tersusun dari 48% asam laurat (asam lemak jenuh 12 rantai C), 7% asam kaprat (asam lemak jenuh 10 rantai C), 8% asam kaprilat (asam lemak jenuh 8 rantai C). Asam lemak rantai sedang (MCFA) ini memiliki sifat antimikrobial dan anti virus. Salah satu teori menyebutkan penyakit jantung koroner dapat disebabkan karena infeksi kronis sejumlah bakteri: Helicobacter pilori dan Chlamydia pneumoniae, atau Cytomegalovirus, yang setidaknya berhubungan dengan pembentukan plak aterosklerosis pembuluh darah koroner.
Virus herpes dan virus citomegalo diduga sebagai penyebab awal terbentuknya plak aterosklerosis dan penyempitan kembali setelah pemasangan cincin koroner (New York Times 1991). Menarik bahwa kedua virus tersebut dapat dihambat oleh monolaurin, suatu lipid antimikroba; tetapi, antimikroba ini tidak terbentuk oleh tubuh selama tidak ada sumber asam laurat didalam dietnya.
Monolaurin Monogliserid dibentuk oleh bayi dari asam laurat yang bersumber dari air susu ibu, melindungi bayi dari infeksi virus, bakteri maupun protosoa.  Monogliserid dari asam laurat (monolaurin) telah dilaporkan sejak 1966 memiliki aktifitas anti mikroba. Hierholser dan Kabara  (1982) menunjukkan efek virusidal monolaurin terhadap virus RNA dan DNA yang terbungkus (membran lipid). Kabara (1978) telah melaporkan adanya asam lemak tertentu (MCFA) dan derivatnya (monogliserid) dapat menonaktifkan berbagai mikroorganisme: bakteri, ragi, jamur dan virus yang terbungkus (enveloped virus).
Asupan minyak kelapa dari berbagai studi membedakan terhadap mereka yang mempunyai serum kolesterol darahnya rendah dan yang serum kolesterol darahnya tinggi. Individu dengan serum kolesterolnya rendah, terjadi peningkatan kolesterol total, LDL dan terutama HDL, tetapi menunjukkan proteksi terhadap PJK karena rasio LDL/HDL-nya menurun. Mereka yang hiperkolesterolemia, kolesterol total dan LDL-nya menurun, berarti menurunkan faktor risiko PJK.
Kesimpulan, minyak kelapa bermanfaat dalam upaya preventif primer dan sekunder penyakit jantung koroner terutama pada kemampuannya menanggulangi mikro organisme yang diduga berperanan dalam proses awal perburukan aterosklerosis seperti: Helicobacter pilori, Chlamydia pneumoniae, serta virus-virus herpes dan citomegalo. Peranannya dalam menurunkan kolesterol total dan LDL pada individu hiperkolesterole mia serta meningkatkan HDL serta menurunkan rasio LDL/HDL kolesterol amat menggembirakan.
Harus selalu diingatkan upaya lain dari preventif Penyakit Jantung Koroner  misalnya: stop merokok, olah raga teratur dan terukur, diet dengan gizi seimbang, atasi dan awasi hipertensi dan diabetes mellitus.

Daftar Pustaka
 
  • Hashim SA, Clancy RE, Hegsted DM, Stare FJ. Effect of mixed fat formula feeding on serum cholesterol level in man. American Journal of Clinical Nutrition. 7:30-34;1959.
  • Sundram K, Hayes KC, Siru OH. Dietary palmitic acid results in lower serum cholesterol than does a lauric-myristic acid combination in normolipemic humans. American Journal of Clinical Nutrition 59:841-846;1994.
  • Tholstrup T, Marckmann P, Jespersen J, Sandstrom B. Fat high in stearic acid favorably affects blood lipids and factor VII coagulant activity in comparison with fats high in palmitic acid or high in myristic and lauric acids. American Journal of Clinical Nutrition 59:371-377;1994.
  • New York Times, Medical Science, Tuesday, January 29, 1991. Common virus seen as having early role in arteries’ clogging (byline Sandra Blakeslee).
  • Kabara JJ. Fatty acids and derivatives as antimicrobial agents — A review, in The Pharmacological Effect of Lipids (JJ Kabara, ed) American Oil Chemists’ Society, Champaign IL, 1978,
  • Kabara JJ. Inhibition of staphylococcus aureaus in The Pharmacological Effect of Lipids II (JJ Kabara, ed) American Oil Chemists’ Society, Champaign IL, 1985, pp.71-75.