Peningkatan produksi minyak sawit Indonesia tidak terlepas dari andil pemuliaan kelapa sawit yang telah dijalankan PPKS semenjak cikal bakal PPKS (AVROS) mulai melakukan seleksi kelapa sawit orijin Dura Deli pada tahun 1933 hingga kini. Material kelapa sawit terus bergerak ke arah yang lebih baik sesuai  dengan perkembangan ilmu pemuliaan kelapa sawit mulai dari teknik penyerbukan buatan, analisa tandan, penemuan segregasi ketebalan cangkang, pengembangan skema-skema pemuliaan yang telah digunakan tanaman lain hingga rekayasa genetik dan bioteknologi modern.

PPKS juga memiliki plasma nutfah kelapa sawit relatif lengkap di Indonesia. Plasma nutfah sebagai dasar genetik pemuliaan berperan penting dalam penyediaan gen-gen unggul kelapa sawit yang akan dieksploitasi untuk menghasilkan varietas unggul menggunakan teknik-teknik pemuliaan. Beberapa plasma nutfah yang saat ini masih dikembangkan adalah Elaeis oleifera yang diintroduksi dari Brazil, Suriname dan Kolombia. Dengan menggunakan program Backcross, PPKS berupaya untuk merakit varietas tanaman yang tidak hanya memiliki produksi tinggi namun juga memiliki kualitas minyak tinggi dan pertumbuhan meninggi yang lambat.

Perakitan Bahan Tanaman Unggul Dengan Kualitas Minyak Yang Tinggi Melalui Program Backcross Antara Elaeis Guineensis dan E. Oleifera

Hingga awal 1980-an peningkatan produktivitas CPO merupakan tujuan utama pemuliaan kelapa sawit. Namun, memasuki dekade 1990-an pengembangan bahan tanaman kelapa sawit bukan han ya difokuskan pada peningkatan produktivitas minyak, melainkan juga perbaikan kualitas minyak.

Pergeseran arah pemuliaan ini dipicu oleh peningkatan perhatian konsumen minyak nabati terhadap nilai nutrisi minyak makan, dan juga alasan kesehatan. Hal ini mengakibatkan harga minyak cair (olein) hasil fraksinasi minyak sawit lebih mahal dibanding dengan lemak padat (stearin)-nya. Komponen utama kualitas minyak yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki adalah kandungan asam lemak tak jenuh (ALTJ), dan komponen minor minyak sawit, seperti beta caroten, tocopherol, dan tocotrienol.

Elaeis oleifera, merupakan spesies kelapa sawit yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Spesies Amerika ini memiliki beberapa karakter unggul antara lain laju pertumbuhan meninggi yang lambat, kandungan ALTJ tinggi, dan resisten terhadap penyakit Fusarium wilt, yang karakter-karakter tersebut dapat diintrogresikan ke dalam Elaeis guineensis.

Program pemuliaan yang melibatkan Elaeis oleifera belum begitu banyak menarik perhatian seperti pada Elaeis guineensis. Salah satu program yang digunakan PPKS untuk mengembangkan E. oleifera adalah backcross atau silang balik yaitu prosedur umum yang digunakan untuk mentransfer karakter-karakter spesifik satu spesies ke spesies yang lain.

Hasil yang telah diperoleh saat ini adalah beberapa individu kelapa sawit hasil backcross yang memiliki pertumbuhan meninggi lambat serta kualitas minyak tinggi namun masih memiliki produktivitas yang tidak berbeda jauh dengan varietas unggul kelapa sawit yang ada saat ini. Beberapa individu terpilih ini akan diperbanyak secara klonal sehingga dapat diperoleh material tanam terpilih yang seragam dan memiliki keunggulan di atas.

Pengembangan Bahan Tanaman Kelapa Sawit Unggul Melalui Program Seleksi RRS

Kelapa sawit telah menunjukkan peran yang signifikan dalam menunjang perekonomian nasional, tercermin dari peningkatan yang sangat pesat dalam dua puluh tahun terakhir, baik dari segi peningkatan luas areal, produksi, maupun kontribusi ekonomi. Peran kelapa sawit tidak terlepas dari eksistensi benih unggul yang dihasilkan oleh produsen resmi yang mempunyai sejarah pemuliaan yang sistematis dan berkelanjutan. Tenera/Pisifera yang berbeda dengan 161 tetua Dura telah diuji dan diamati selama 9 sampai 12 tahun. Siklus kedua RRS telah dimulai sejak tahun 1986 dan direvisi secara radikal pada tahun 1992.

Hasil-hasil observasi sampai tahun 2004 merupakan bahan yang sangat berharga untuk melanjutkan skema seleksi ini memasuki siklus ketiga. Sampai saat ini, telah dihasilkan 2 (dua) varietas baru dari siklus kedua ini, yakni varietas Simalungun dan Langkat, yang mampu berproduksi sampai 8 ton CPO/ha/tahun. Sebanyak 27 tetua dari berbagai populasi dura dan 33 tetua tenera/pisifera dari berbagai orijin telah dipilih berdasarkan daya gabung umum (general combining abilities/GCA) dan daya gabung khusus (specific combining abilities/SCA). Penyusunan mating design telah dimulai sejak 2003, dan hingga 2006 telah tersusun sebanyak 25 program. Hingga Desember 2006 status realisasi mating design dengan kode program RRS 3A_PS2 dan RRS 3A_PS6 masing-masing telah mencapai 95,2 % dan 90,5 %, namun demikian masih dilakukan pengulangan pada beberapa persilangan untuk melengkapi jumlah biji yang dihasilkan. Sementara untuk kode program yang lain masih terus berlangsung. Pada 2004-2006 telah dilakukan 511 serbukan selfing dan crossing. Sebanyak 37,7% serbukan telah terealisasi dari total 533 serbukan sesuai mating design yang telah disusun, dan 80 % dari seluruh tetua telah diselfing. Ditargetkan seluruh program mating design dapat selesai pada 2008.

Kandidat Varietas Baru
Pengamatan dan analisis data yang dilakukan pada percobaan MA 08 S, BJ 13 S, BJ 37 S dan BJ 38 S menghasilkan 2 kandidat varietas baru yaitu varietas Big Bunch dan High Mesocarp.

Tetua-tetua dari RS 3 T self (lini murni SP 540) secara konsisten memperlihatkan persentase mesokarp yang lebih tinggi, yaitu 87,1%, dibandingkan dengan rerata seluruh persilangan (82,3%). Tingginya kedua komponen mutu tandan berdampak kepada peningkatan rendemen (oil extraction rate/OER) hingga 31,1%, lebih tinggi dibandingkan dengan rerata pengujian yaitu 28,5%. Kombinasi terbaik tetua-tetua RS 3 T self untuk menghasilkan persentase mesokarp tinggi adalah tetua-tetua dari PA 131 D self dan tetua-tetua TI 221 D x GB 30 D. Projeni-projeni hasil persilangan dengan tetua-tetua kedua orijin dura tersebut menghasilkan persentase mesokarp berturut-turut sebesar 88,5% dan 87% serta rendemen minyak berturut-turut sebesar 32,5% dan 29,9%.

Rerata bobot tandan (ABW) yang dihitung pada periode umur 6-9 tahun untuk projeni-pr ojeni yang diuji pada siklus kedua ini adalah 15,9 kg. Salah satu projeni yang diuji, DA 115 D self x LM 718 T self, menujukkan ABW yang jauh lebih tinggi dibanding rerata pengujian yakni
22,8 kg pada periode umur 6-9 tahun. Dari 16 persilangan yang diuji yang berasal dari 14 tetua keturunan DA 115 D dan 7 tetua keturunan LM 718 T self, keseluruhannya menunjukkan keragaan yang konsisten untuk sifat ABW tinggi.

Sumber : PPKS