Anda penyuka kucing? Hewan berparas lucu dan jinak ini memang banyak penggemarnya. Jika Anda termasuk salah satu di antaranya, tak ada salahnya untuk berhati-hati. Hal ini karena kucing bisa menularkan parasit toksoplasma gondii, penyebab penyakit toksoplasmosis.

Kadangkala, penularan parasit ini tidak langsung dari kucing ke manusia. Bisa jadi, parasit ini terlebih dulu menular ke kambing. Itu terjadi bila kambing memakan rumput yang telah tercemar oleh kotoran kucing. Kemudian, daging kambing tadi dikonsumsi oleh manusia, sehingga parasit yang awalnya berasal dari kucing lalu menjangkiti manusia.

Namun, Anda tak perlu cemas berlebihan. ”Sebab, tidak semua kucing mengandung parasit toksoplasma gondii dalam tubuhnya,” kata dr R Muharam, SPOG (K), ahli kebidanan dan kandungan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Berbagai literatur menjelaskan, parasit toksoplasma umumnya berkembang biak dalam sel darah putih, jaringan parenkim, dan sel endotel dengan cara membelah diri. Setelah berkembang biak, parasit ini kemudian membentuk kista. Dalam bentuk inilah parasit akan berdiam diri di dalam jaringan syaraf mata, otot jantung, alat pencernaan, dan sebagainya. Pada saluran pencernaan kucing, toksoplasma bahkan mampu berkembang biak secara lengkap. Sebab itu kucing disebut induk semang difinitif.

Pada kotoran kucing, toksoplasma ditemukan dalam bentuk telur. Dalam waktu 48 jam, telur itu akan membelah menjadi bentuk-bentuk infektif yang berbahaya bagi manusia atau hewan lain jika tertelan melalui makanan atau minuman yang tercemar.

Menurut Muharam, semua orang bisa terkena parasit ini. Toksoplasma dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin dan umur. Hanya saja, bagi wanita hamil, parasit ini bisa membahayakan bayi yang tengah dikandung. Infeksi parasit toksoplasma gondii pada wanita hamil bisa menyebabkan janin yang dikandung lahir cacat, utamanya bila terjadi pada trimester pertama kehamilan.

Bentuk kecacatan itu misalnya, encephalus (bayi tidak memiliki tulang tengkorak), hydrocephalus (pembesaran kepala), dan bahkan kematian. Parasit ini juga bisa masuk ke mata dan otak.

Serangan parasit toksoplasma pada mata, bisa mengakibatkan gangguan mata atau penglihatan pada bayi dan anak-anak. Seperti dikatakan Wakil Direktur Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Mata Dr YAP Yogyakarta, dr Hj Enni Cahyani SpM MKes, umumnya toksoplasmosis mata diderita sejak lahir (kongenital). Namun, bisa juga terjadi setelah dewasa. Seperti halnya Muharam, Enni pun mengatakan bahwa sumber utama infeksi toksoplasma pada manusia adalah kucing. Penularannya bisa melalui kotoran kucing, tetapi bisa juga karena parasit ini termakan bersama-sama daging mentah atau yang dimasak secara tidak memadai.

Perlu cek darah

Infeksi parasit toksoplasma sulit dideteksi dengan mata biasa. Untuk memastikan seseorang menderita toksoplasmosis atau tidak, harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Artinya, infeksi toksoplasma baru bisa dideteksi jika dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium melalui uji serologis (serum darah), yaitu dengan mendeteksi adanya antibodi khas antitoksoplasma. Adapun indikasi untuk melakukan pemeriksaan, katanya, bila ibu susah hamil. ”Itu salah satu indikasi untuk diperiksa,” tuturnya.

Lalu, bisakah toksoplasmosis ini diobati? ”Bisa, obatnya pun sudah banyak tersedia di apotek,” ujar Muharam. Hal serupa berlaku untuk toksoplasmosis mata. Menurut Enni, penderita toksoplasmosis mata perlu mendapatkan terapi standar menggunakan Pyrimetamin dengan kombinasi Sulfonamid. ”Namun, pada stadium inaktif, tidak perlu pengobatan,” demikian Enni.

Walau obatnya telah tersedia, alangkah baiknya bila dilakukan tindakan pencegahan. Caranya, antara lain dengan mengolah dulu sampai matang daging yang hendak dikonsumsi. Hindari mengonsumsi daging kambing, terutama yang diolah menjadi satai karena ada kemungkinan dagingnya kurang matang. Hal lain, hindari mengonsumsi telur mentah atau setengah matang. ”Lebih penting lagi, jangan lupa cuci tangan sebelum makan,” demikian Muharam.