Dulu, ketika ada anak kecil mimisan (keluar darah dari hidung), dengan sigap orangtua akan memetik daun sirih, melipat dan menggulungnya, lalu slup.. dimasukkan ke hidung si anak. Ajaib! Tak seberapa lama darah pun berhenti mengucur.

Kini, ritual itu pun berlangsung kembali. Hanya saja kali ini si orangtua memetik daun sirih bukan buat menyetop mimisan, tapi untuk menghentikan calon makhluk penghisap darah. Daun beraroma khas ini digunakan buai menumpas jentik nyamuk.

Ketika muslin hujan, kita sering dihimbau untuk mewaspadai jentik nyamuk, khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus penyebar wabah demam berdarah dengue (DBD). Beragam produk insektisida ditabalkan sebagai penumpas kedua jenis nyamuk tadi. Namun, insektisida ditengarai berdampak negatif terhadap lingkungan, selain dapat menumpas predator dan membuat serangga resisten. Alhasil, ditolehlah pemusnahan secara alami.

Alternatif dari alam ini sudah sering digunakan. Hasilnya memang kalah jos dibandingkan dengan insektisida kimia. Tumbuhan yang digunakan umumnya mengandung zat-zat macam niketin, piretin, dan rotenon. lnsektisida ini akan terurai menjadi senyawa-senyawa yang tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungan setelah digunakan.

Penelitian tentang insektisida alamiah dalam upaya mengendalikan serangga, khususnya pada stadium jentik, pertama kali dirintis oleh Campbell dan Sulivan tahun 1933. Selanjutnya berturut-turut Harzel tahun 1948; Amongkas dan Reaves tahun 1970; Pirayat Suparvann, Roy Sifagus, dan Fred W.K (1974) di University of Kentucky, Lexington telah menghasilkan penelitian bahwa ekstrak daun kemangi (Olium basikicum) pada dosis 100 ppm (bagian per sejuta) dapat menghambat prtumbuhan jentik Aedes aegypty.

Beberapa penelitian tadi menguatkan bahwa tanaman tertentu ternyata memiliki zat beracun bagi serangga. Salah satunya sirih (Paper betle (L) atau Charica betle (L)) yang termasuk dalam famili Piperaceae. Dari hasil penelitian, ekstrak daun sirih dapat digunakan sebagai insektisida alami dalam upaya membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti.

Dalam daun sirih terkandung beberapa senyawa seperti minyak atsiri, zat penyamak, cineole, dan yang terpenting senyawa alkoloid. Senyawa terakhir inilah yang nantinya dapat digunakan untuk membasmi jentik nyamuk dengan cara kerja mirip bubuk abate.

Bagaimana memperoleh ekstrak daun sirih?

Pertama, daun sirih 1/2 kg dicuci, kemudian ditiriskan di tampah hingga kering. Daun yang sudah kering digiling atau di-blender hingga berbentuk serbuk. Dari situ akan diperoleh sekitar 43 g serbuk daun sirih.

Kedua, masukkan serbuk ke dalam wadah (becker glass) dan tambahkan alkohol 95% sebanyak dua liter sehingga serbuk terendam. Aduk dan diamkan selama 24 jam. Setelah itu, saringlah dan godok atau panaskan hasil saringan tadi selama satu jam. Baru setelah itu diamkan selama seminggu. Masukkan ekstrak yang telah jadi itu ke dalam wadah atau botol dan siap untuk digunakan.

Bahan inilah yang nantinya digunakan untuk membasmi jentik Aedes aegypti sebelum sempat beranjak dewasa. Cara menggunakannya mirip kita menaburkan abate di genangan air. Cukup dengan konsentrasi rendah, jentik sudah kelimpungan. Alamiah dan murah!