Posts tagged ‘CPO’

Pure Plant Oil, Pemurnian secara Fisika

Proses ini terdiri dari proses degumming, bleaching, dan deodorisasi. Proses pemurnian secara fisika ini lebih sederhana daripada proses secara fisika, namun peralatan yang digunakan lebih rumit. Untuk proses degumming dan bleaching hampir sama dengan proses secara kimia. Berikut ini flowchart dari proses pemurnian secara fisika.

Pemurnian secara fisika Yang membedakan proses  fisika dan kimia adalah pada proses pemisahan FFA-nya, dalam kimia proses yang digunakan yaitu neutralisasi dengan menambahkan zat kimia (larutan caustik), kemudian terjadinya reaksi kimia antara FFA dan larutan caustic menjadi sabun. Sedangkan, dalam fisika proses yang berlangsung dengan pemanasan dan kondisi vakum agar minyak tidak rusak pada suhu tinggi.

Proses deodorisasi adalah proses destilasi vakum dengan steam pada temperatur dimana FFA dan zat pembau dihilangkan untuk memperoleh minyak yang tidak berbau. Zat pembau adalah FFA, aldehid, keton, peroksida, alcohol, dan komponen organik yang lain. (O’Brien, hal 153)

Kondisi temperatur pada umumnya 250-280 oC dan kondisi vakum sekitar 2 torr – 10 torr. Namun semuanya harus dihitung dulu untuk menentukan kondisinya dengan pasti, tentu saja dengan menggunakan perhitungan dew point minyak untuk memisah dengan FFA. Dalam buku Seader dan Enerst halaman 17 dijelaskan bahwa semua steam akan menguap lewat overhead (tidak ada kondensasi internal) dalam kondisi steady state, dimana sistem berada dalam kondisi titik dew point.

Proses deodorisasi ini dapat berlangsung secara batch, semi kontinyu, dan kontinyu. Selain itu, kolom destilasi vakum yang digunakan untuk deodorisasi ini untuk tempat kontaknya dapat dengan menggunakan tray maupun packed kolom. Semua spesifikasi ini tergantung pada kapasitas, biaya, dan kegunaan. Pada umumya, bila diameter kolom kurang dari 1 meter, maka lebih ekonomis bila menggunakan packed kolom.

Keunggulan pemurnian secara fisika ini yaitu:

  • Physical refining sesuai untuk minyak dengan FFA tinggi atau minyak kelapa sawit dan minyak sekam padi.
  • Looses pada chemical refining, sangat tinggi, terutama minyak dengan FFA tinggi diproses secara fisika (tanpa proses caustic). Proses-proses yang dilakukan yaitu degumming, bleaching, dan deodorisasi, dengan kondisi operasi pada umumnya 0,5 torr vakum, dapat mengurangi FFA hingga dibawah 0,1 % dan jernih tanpa bau.
  • Keuntungan physical refining adalah tidak menghasilkan sabun (seperti dalam proses kimia) yang membutuhkan proses lebih lanjut. Namun langsung menghasilkan DFA (distilled fatty acid) by product yang dapat langsung digunakan oleh pabrik sabun. Dan juga tidak memerlukan air pencucian yang sangat baik untuk plant water treatment, sehingga bebas polusi.

(http://oiltekcanada.com/oilref.htm)

Mungkin untuk lebih sederhananya akan diterangkan dengan gambar di bawah ini.

Keunggulan fisika

Namun, dampak negatif dari teknologi deodorisasi yaitu:

  • degradasi thermal,
  • hidrolisis,
  • trans fatty acid formation,
  • positional isomerisation of PUFA (polyunsaturated fatty acid),
  • dan polymerisation (dimers).

Kelemahan fisika

Namun, sekarang proses deodorisasi ini komersil dan telah banyak digunakan dalam industri refining minyak goreng. (Galz-dari berbagai sumber)

Sumber : http://sekotheng.wordpress.com

Pure Plant Oil, pemurnian secara kimia

Proses pemurnian secara kimia ini, terdiri dari proses degumming, proses neutralisasi, dan proses bleaching. Proses ini disebut kimia, karena proses yang dilakukan dengan penambahan bahan kimia. Dan bila mengolah minyak kelapa sawit sebagai bahan baku, hasil yang diperoleh disebut NBDPO atau kepanjangan dari Neutralized Bleached Deodorized Palm Oil. Berikut ini flowchart untuk pemurnian secara fisika pada umumnya

Proses-proses yang terjadi dalam proses ini adalah:

1. Proses Degumming

Degumming adalah proses penghilangan gum (getah). Biasanya menggunakan asam phospat, karena asam phospat ini dapat mengikat fosfor yang merupakan komposisi getah, kemudian mengendapkannya. Proses ini disertai pemanasan untuk mengoptimalkan proses degumming, biasanya pemanasan dilakukan sampai suhu sekitar 60oC. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air saja.

Pernah dulu, sewaktu tugas akhir, seorang rekan juga melakukan percobaan degumming minyak jarak dengan menggunakan air dengan disertai pemanasan. Hasil yang menakjubkan gum berasal dari minyak jarak tersebut mengendap di bawah, dan berwarna putih, dan minyak yang dihasilkan lebih jernih. Namun, hal ini dirasa kurang efektif karena masih adanya sedikit gum dan waktu yang dibutuhkan untuk mengendapkan air dan gum-nya membutuhkan waktu yang agak lama.

2. Proses Netralisasi

Netralisasi adalah proses penambahan suatu basa ke dalam minyak untuk menetralkan minyak, karena sebelumnya minyak mengandung FFA (asam lemak bebas) yang kemudian direaksikan dengan basa kuat/larutan caustic yang akhirnya membentuk sabun. Basa kuat yang pada umumnya untuk reaksi ini adalah sodium hidroksida (NaOH) dan potassium hidroksida (KOH). Proses ini disertai dengan pemanasan sampai suhu sekitar 60oC. Namun, proses ini tidak dapat digunakan untuk FFA tinggi, karena bila proses pemurnian minyak secara kimia ini dilakukan, hasilnya akan menjadi sabun semua.

3. Proses Pengeringan

Proses pengeringan pada minyak bertujuan menguapkan terutama air dan mungkin pengotor lain yang volatile. Minyak hasil dipanaskan hingga >100oC (cukup suhu dimana air akan menguap), kemudian dalam kondisi vakum rendah. Karena bila masih ada kandungan air, maka memungkinkan terjadinya hidrolisa, yang bila bereaksi, hasil akhirnya asam lemak bebas dan menjadi digliserida atau menjadi monogliserida.

4. Proses Bleaching

Bleaching adalah memucatkan minyak atau menghilangkan komponen warna yang tidak diinginkan. Proses pemucatan ini ada 4 macam:

  1. Pemucatan dengan absorbsi : Biasanya digunakan bleaching earth (tanah pemucat) dan karbon aktif sebagai absorben.
  2. Pemucatan dengan oksidasi : Proses ini dikembangkan di industri sabun.
  3. Pemucatan dengan panas : Pada umumnya, pada suhu tinggi warna akan menjadi lebih pucat, karena zat-zat warna akan menguap. Namun proses ini, biasanya kondisi di bawah atmosfir atau vakum, karena untuk menghindari rusaknya minyak karena suhu yang terlalu tinggi.
  4. Pemucatan dengan hidrogenasi : Hal ini dilakukan dengan penambahan hidrogen, reaksi yang terjadi adalah reaksi adisi, pemecahan rantai. Misalnya untuk beta karoten yang mempunyai ikatan rangkap kemudian diadisi, warna menjadi lebih pucat.

Namun yang pada umumnya yang digunakan dalam industri refinery minyak nabati adalah pemucatan dengan menggunakan absorben, dengan tanah pemucat (bleaching earth) disertai pemanasan dan pada kondisi vakum.

Kelemahan proses pemurnian secara kimia:

  1. Tidak dapat dilakukan untuk FFA tinggi.
  2. Losses banyak.
  3. Tidak ekonomis untuk kapasitas yang besar, karena membutuhkan bahan kimia dan proses yang panjang.
  4. Produk samping yang dihasilkan memerlukan treatment yang lebih lanjut, seperti sabun yang dihasilkan perlu proses lanjut.

Oleh karena itu, ada proses fisika yang lebih simple, tapi menggunakan alat yang rumit. Namun, kedua proses ini masih digunakan, semuanya tergantung dari bahan baku, kapasitas, dan biaya. (Galz – dari berbagai sumber)

Sumber : http://sekotheng.wordpress.com

Proses Pemurnian Minyak Nabati secara Fisika dalam Industri

Flowsheet industri

Pertama-tama bahan baku yang digunakan oleh plant fisika adalah crude palm oil (CPO) dari tangki penyimpan CPO (storage tank). CPO dialirkan dengan rate 35-60 ton/jam. Temperatur inisial CPO adalah 40 – 60 oC. Umpan dipompa melalui sistem yang mengembalikan panas (heat recovery system), yang plate heat exchanger bertambah menjadi 60-90 oC.

Setelah itu, kira-kira 20 % umpan CPO menjadi slurry dan campur dengan bleaching earth (6 – 12 kg/ton CPO) menjadi bentuk slurry (CPO + Bleaching earth). Pengaduk dalam tank slurry mencampur CPO dengan bleaching earth secara sempurna. Kemudian slurry menuju bleacher.

Pada waktu yang sama, 80 % CPO dipompa melalui plate heat exchanger (PHE) dan pemanas steam menaikkan temperatur CPO menjadi 90 – 130 oC (temperature yang diharapkan untuk reaksi antara CPO dan asam fosfat). Kemudian, Umpan CPO dipompa ke mixer static dan asam fosfat dengan dosis 0,35 -0,45 kg/ton. Di dalamnya, pengadukan secara intensif dengan minyak mentah untuk mempresipitasi gum (getah). Presipitasi gum akan meringankan proses filtrasi nantinya, mencegah pembentukan scale dalam deodorizer dan panas permukaan. Degumming CPO kemudian menuju bleacher.

Dalam bleacher, ada 20 % slurry dan 80 % CPO yang didegumming dicampur bersama dan proses bleaching terjadi. Proses bleaching termasuk penambahan bleaching earth untuk menghilangkan beberapa impurities yang tidak diinginkan (semua pigment, trace metals, produk oksidasi) dari CPO dan akan memperbaiki rasa aslinya, bau akhir, dan kestabilan oksidasi produk. Hal ini juga membantu mengatasi masalah proses berikutnya dengan adsorpsi trace sabun, pro-oxidant metal ion, dekomposisi peroxide, pengurangan warna, dan adsorb impurities minor. Temperatur dalam bleacher harus sekitar 100-130 oC untuk mendapatkan proses bleaching optimum untuk periode bleaching 30 menit. Steam dengan tekanan rendah dimasukkan dalam bleacher untuk menggerakkan slurry berkonsentrasi untuk kodisi bleaching yang lebih baik.

Slurry mengandung minyak dan bleaching earth kemudian melalui filter Niagara agar bersih, bebas dari partikel bleaching earth. Temperatur dijaga pada 80 – 120 oC untuk proses filtrasi yang baik. Pada filter Niagara, slurry melewati lembaran filter dan bleaching earth terjebak dalam lembaran filter. Sebenarnya, bleaching earth harus bersih dari filter Niagara setelah 45 menit operasi untuk mendapatkan filtrasi yang baik. Bleached palm oil (BPO) dari filter Niagara dipompa menuju tank buffer yang sebagai storage sementara sebelum proses lebih lanjut.

Pada umumnya, dicheck pada filter kedua, perangkap filter yang digunakan dengan filter Niagara untuk menjamin bahwa tidak ada bleaching earth lolos terjadi. Adanya bleaching earth mencemari deodorizer, mengurangi stabilitas oksidasi dari produk minyak dan berlaku sebagai katalis untuk aktifitas dimerizaition dan polimerisasi. Karena itu, beberapa koreksi dapat diambil secepatnya.

BPO keluar dari filter dan melalui rangkaian sistem pengembalian panas (heat recovery system), Schmidt plate heat exchanger dan spiral (termal minyak: 250-305 oC) heat exchanger memanaskan BPO dari 80 – 120 oC sampai 210 – 250 oC.

BPO panas dari spiral heat exchanger kemudian diproses ke tahap selanjutnya dimana FFA dan warna dikurangi dan lebih penting, menghilangkan bau menghasilkan produk yang stabil dan bau yang berkurang.

Dalam kolom pre-stripping dan deodorizing, proses deacidification dan deorization terjadi secara bersamaan. Deodorisasi pada temperature tinggi, vakum yang tinggi, dan proses destilasi vakum. Operasi deodorizer dengan alat: 1. Dearasi minyak, 2. Memanaskan minyak, 3. Steam strips minyak, 4. Mendinginkan minyak sebelum meninggalkan sistem. Semua material adalah stainless steel.

Pada kolom, minyak umumnya dipanaskan kira-kira 240 – 280 oC di bawah vakum. Vakum kurang dari 10 torr biasanya dijaga oleh ejector dan booster. Panas bleaching minyak terjadi pada temperatur ini melalui perusakan termal pigmen karotenoid. Penggunaan steam langsung (direct steam) menjamin pembuangan residu FFA, aldehida dan keton yang tidak diharapkan rasa dan baunya. Berat molekul yang lebih rendah dari fatty acid yang teruapkan naik ke kolom dan tertarik keluar oleh sistem yang vakum. Uap fatty acid meninggalkan deodorizer didinginkan dan dikumpulkan dalam kondensor fatty acid sebagai fatty acid. Fatty acid kemudian didinginkan dalam fatty acid cooler dan dikeluarkan menuju storage tank fatty acid dengan temperature sekitar 60 – 80 oC sebagai destilat asam lemak kelapa sawit (palm fatty acid distillate/ PFAD), by produk dari proses refinery.

Produk bawah (bottom product) dari pre-stripper dan deodorizer adalah refined, bleached, deodorized palm oil (RBDPO). RBDPO panas (250-280 oC) dipompa melalui Schimidt Heat Exchanger untuk memindahkan panasnya ke BPO yang masuk dengan temperature rendah. Lalu, melalui perangkap filter lainnya untuk mendapat minyak akhir (120 – 140 oC) untuk mencegah earth trace dari reaching tangki produk. Setelah itu, RBDPO melalui RBDPO cooler dan plate heat exchanger untuk memindahkan panas ke umpan CPO. RBDPO dipompa ke storage dengan temperatur 50 – 80 oC. (Galz-dari Refinery of Palm Oil)

Sumber : http://sekotheng.wordpress.com

Industri Kelapa Sawit (PKS)

Industri Kelapa SawitIndonesia merupakan salah satu penghasil komoditas kelapa sawit terbesar di dunia. Kebutuhan buah kelapa sawit meningkat tajam seiring dengan meningkatnya kebutuhan CPO dunia, seperti yang terjadi beberapa bulan terahir ini.

Dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia, menjadikan CPO sebagai pilihan untuk bahan baku pembuatan bio energi.
Peluang industri pengolahan kelapa sawit (PKS) masih sangat prospek untuk memenuhi pasar dalam dan luar negeri.

Dengan didukung tenaga ahli yang berpengalaman puluhan tahun di bidang industri pengolahan kelapa sawit, kami menawarkan Jasa Pembangunan Industri Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) secara komprehensif (turn key) mulai konstruksi pabrik, mesin pengolahan sampai dengan instalasi pengolahan limbah.

- Produk yang dihasilkan : CPO

- Bahan Baku : Kelapa Sawit.

- Kapasitas Bahan Baku : mulai 1 ton/jam,5 ton/jam,30 ton/jam, 60 ton/jam, atau sesuai permintaan

Gambar Alat dan Proses Pengolahan CPO (dari Kelapa Sawit Menjadi CPO)
KAPASITAS 30T/24 Jam

1. PALM FRUIT STRIPPER
PALM FRUIT STRIPPER Mesin ini berfungsi memisahkan buah-buahan sawit dari tandan sawit. Pemisahan buah-buahan sawit dengan tangan membutuhkan tenaga yang sangat besar.Tetapi dengan bantuan mesin ini memisahkan buah sawit menjadi lebih mudah dengan proses mekanikal sederhana.
Alat ini terdiri dari suatu lempeng-lempeng melengkung yang disusun dengan jarak tertentu dan diikat satu sama lain membentuk suatu sangkar dan didalamnya terdapat tangkai-tangkai pemukul yang dipasang pada sumbu yang berputar.
Tandan dijatuhkan pada bagian ujung atas penebah dan dipukul turun sambil diputar oleh ujung tangkai pemukul hingga turun. Buah akan terpisah dan turun melalui lubang bawah pada sisi yang lain.
Mesin ini mampu merontokkan buah yang disterilisai sebaik yang belum disterilisai dengan sama efektifnya. Kapasitas stripper adalah 2-3 ton per jam. Sehingga satu mesin mampu melayani 2 expeller.

2. OIL EXPELLER dan KETEL PEMASAK

Oil ExpellerBuah sawit diumpankan ke dalam ketel pemasak yang menggunakan steam dari boiler sebagai sumber panas. Steam dialirkan melalui jaket tangki pemasak. Steam sebagian juga dimasukkan langsung ke dalam ketel pemasak sehingga buah sawit lunak dan semua selnya siap mengeluarkan minyak. Proses ini tidak membutuhkan sterilisasi terpisah, karena sudah dilakukan di ketel pemasak. Buah sawit yang telah dimasak diumpankan ke kotak pelumat yang berada di bawah ketel pemasak.
Tungkai expeller akan mendorong ke dalam ruang pelumat. Minyak yang keluar akan melalui celah dan jatuh ke bawah. Campuran biji sawit dan serat akan keluar dari samping. Kapasitas ekpeller adalah 400 kg buah per jam.

3. PEMISAH SERAT dan BUAH SAWIT
PEMISAH SERAT dan BUAH SAWITCampuran biji sawit dan sabut merupakan produk samping expeller. Pemisahan biji dari sabut menggunakan alat ini yang dioperasikan manual. Alat ini berupa silinder yang berupa saringan. Sabut akan menembus saringan dan jatuh ke bawah sedangkan biji akan keluar pada ujung silinder. Sabut digunakan sebagai bahan bakar boiler sedangkan biji dijual atau di pecah dan diambil minyak kernelnya.

4. OIL CLARIFIER

Minyak sawit yang didapatkan dari expeller masih berupa minyak kental karena mengandung partikel padat yang berwujud seperti lumpur dan susah dipisahkan dari minyak. Berbagai metoda telah digunakan oleh banyak ilmuwan untuk memisahkan padatan dari minyak, tetapi cara yang paling efektif adalah menambahkan banyak air pada minyak. Penambahan ini akan memisahkan minyak bening ke atas dan air bersama kotoran ke bawah.

Alat berupa dua silinder, dengan satu silinder lebih kecil berada di dalam silinder yang lebih besar. Minyak dimasukkan kedalam silinder yang besar melalui bagian bawahnya. Minyak beningan akan naik ketas, seiring penambahan minyak ke dalam silinder besar. Minyak bening dari silinder besar selanjutnya mengisi silinder kecil dan dikeluarkan melaui bagian bawah silinder kecil. Minyak ini kemudian dipanaskan untuk mengurangi kadar air dan didapatkan CPO.

5. FILTER PRESS

FILTER PRESSFilter press berguna untuk menjernihkan minyak yang telah keluar dari Oil Clarifier. CPO akan dipompa melalui filter press dan menghasilkan minyak sawit bening.

6. BOILER

BOILERBoiler digunakan sebagai pembuat steam yang merupakan sumber panas untuk ketel pemasak. Boiler yang dibuat dapat menggunakan sabut sebagai bahan bakarnya sehingga dapat menghemat penggunaan Bahan bakar minyak.

Sumber : http://anekaindustri.com

HPE CPO Mei Dipatok US$ 560/MT

Pemerintah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) Crude Palm Oil (CPO) untuk periode 1-31 Mei 2009 sebesar US$ 560 per metrik Ton. HPE CPO di bulan Mei ini lebih tinggi dibanding April 2009 yang sebesar US$ 515/MT.

Karena HPE CPO yang digunakan di bulan Mei masih di bawah US$ 700/MT maka pajak ekspor tidak ada alias nol. HPE CPO baru itu tertuang dalam Permendag No 15/M-DAG/PER/4/2009 tertanggal 25 April 2009 dan berlaku mulai 1 Mei 2009.

Mendag Mari Elka Pangestu dalam pengumuman seperti dilansir, Sabtu (25/4/2009) menjelaskan tarif bea keluar untuk komoditi Kelapa Sawit dan turunannya berpedoman pada harga referensi yang didasarkan pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum Penetapan HPE. Dimana harga rata-rata yang dipakai adalah sebesar US$ 634,01/MT.

Berikut HPE kelapa sawit, CPO dan produk turunannya periode 1-31 Mei 2009.

  • Buah dan kernel kelapa sawit HPE US$ 221/MT
  • Crude Palm Oil (CPO) HPE US$ 560/MT
  • Crude Olein HPE US$ 658/MT
  • Crude Stearin HPE US$ 500/MT
  • Crude Palm Kernel Oil (CPKO) HPE US$ 564/MT
  • Crude Kernel Stearin HPE US$ 564/MT
  • Crude Kernel Olein HPE US$ 564/MT
  • RBD Palm Oil HPE US$ 669/MT
  • RBD Palm Kernel Olein HPE US$ 611/MT
  • RBD Palm Kernel Stearin HPE US$ 813/MT
  • RBD Palm Stearin HPE US$ 509/MT
  • RBD Palm Kernel Oil HPE US$ 614/MT
  • RBD Palm Oil HPE US$ 636/MT
  • Biodiesel dari Minyak Sawit HPE US$ 710/MT

Sementara Berdasarkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, maka diputuskan bea keluar baru.

Terhadap penetapan dan pengenaan tarif bea keluar terhadap barang ekspor berupa kelapa sawit dan CPO dan produk turunannya, maka berlaku ketentuan:

  • Untuk harga referensi hingga US$ 700 per ton, maka tarif bea keluarnya adalah 0%
  • Untuk harga referensi US$ 701-750 per ton, maka bea keluarnya adalah 1,5%
  • Untuk harga referensi US$ 751-800 per ton, maka bea keluarnya adalah 3%
  • Untuk harga referensi US$ 801-850 per ton, maka bea keluarnya adalah 4,5%
  • Untuk harga referensi US$ 751-900 per ton, maka bea keluarnya adalah 6%
  • Untuk harga referensi US$ 901-950 per ton, maka bea keluarnya adalah 7,5%
  • Untuk harga referensi US$ 951-1.000 per ton, maka bea keluarnya adalah 10%
  • Untuk harga referensi US$ 1.001-1.050 per ton, maka bea keluarnya adalah 12,5%
  • Untuk harga referensi US$ 1.051-1.100 per ton, maka bea keluarnya adalah 15%
  • Untuk harga referensi US$ 1.101-1.150 per ton, maka bea keluarnya adalah 17,5%
  • Untuk harga referensi US$ 1.151-1.200 per ton, maka bea keluarnya adalah 20%
  • Untuk harga referensi US$ 1.201-1.250 per ton, maka bea keluarnya adalah 22,5%
  • Untuk harga referensi lebih dari atau sama dengan US$ 1.251 per ton, maka bea keluarnya adalah 25%.

Harga referensi tersebut ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan dengan berpedoman pada harga CPO CIF Rotterdam.

Sumber/kutipan dari :http://www.detikfinance.com

HPE CPO April US$ 515/MT

Pemerintah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) Crude Palm Oil (CPO) untuk periode 1-30 April 2009 sebesar US$ 515 per metrik Ton

HPE CPO di bulan April ini lebih tinggi dibanding Maret 2009 yang sebesar US$ 480/MT.

Karena HPE CPO yang digunakan di bulan April masih di bawah US$ 700/MT maka pajak ekspor tidak ada alias nol.

HPE CPO baru itu tertuang dalam Permendah No 11/M.DAG/PER/3/2009 tertanggal 25 Maret 2009 dan berlaku mulai 1 April 2009.

Mendag Mari Elka Pangestu dalam pengumuman yang dikutip, Sabtu (28/3/2009) menjelaskan tarif bea keluar untuk komoditi Kelapa Sawit dan turunannya berpedoman pada harga referensi yang didasarkan pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum Penetapan HPE. Dimana harga rata-rata yang dipakai adalah sebesar US$ 588,38/MT.

Berikut HPE kelapa sawit, CPO dan produk turunannya periode 1-30 April 2009.

  • Buah dan kernel kelapa sawit HPE US$ 221/MT
  • Crude Palm Oil (CPO) HPE US$ 515/MT
  • Crude Olein HPE US$ 578/MT
  • Crude Stearin HPE US$ 424/MT
  • Crude Palm Kernel Oil (CPKO) HPE US$ 512/MT
  • Crude Kernel Stearin HPE US$ 512/MT
  • Crude Kernel Olein HPE US$ 512/MT
  • RBD Palm Oil HPE US$ 588/MT
  • RBD Palm Kernel Olein HPE US$ 554/MT
  • RBD Palm Kernel Stearin HPE US$ 764/MT
  • RBD Palm Stearin HPE US$ 434/MT
  • RBD Palm Kernel Oil HPE US$ 539/MT
  • RBD Palm Oil HPE US$ 557/MT
  • Biodiesel dari Minyak Sawit HPE US$ 613/MT

Sementara Berdasarkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, maka diputuskan bea keluar baru.

Terhadap penetapan dan pengenaan tarif bea keluar terhadap barang ekspor berupa kelapa sawit dan CPO dan produk turunannya, maka berlaku ketentuan:

  • Untuk harga referensi hingga US$ 700 per ton, maka tarif bea keluarnya adalah 0%
  • Untuk harga referensi US$ 701-750 per ton, maka bea keluarnya adalah 1,5%
  • Untuk harga referensi US$ 751-800 per ton, maka bea keluarnya adalah 3%
  • Untuk harga referensi US$ 801-850 per ton, maka bea keluarnya adalah 4,5%
  • Untuk harga referensi US$ 751-900 per ton, maka bea keluarnya adalah 6%
  • Untuk harga referensi US$ 901-950 per ton, maka bea keluarnya adalah 7,5%
  • Untuk harga referensi US$ 951-1.000 per ton, maka bea keluarnya adalah 10%
  • Untuk harga referensi US$ 1.001-1.050 per ton, maka bea keluarnya adalah 12,5%
  • Untuk harga referensi US$ 1.051-1.100 per ton, maka bea keluarnya adalah 15%
  • Untuk harga referensi US$ 1.101-1.150 per ton, maka bea keluarnya adalah 17,5%
  • Untuk harga referensi US$ 1.151-1.200 per ton, maka bea keluarnya adalah 20%
  • Untuk harga referensi US$ 1.201-1.250 per ton, maka bea keluarnya adalah 22,5%
  • Untuk harga referensi lebih dari atau sama dengan US$ 1.251 per ton, maka bea keluarnya adalah 25%.

Harga referensi tersebut ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan dengan berpedoman pada harga CPO CIF Rotterdam.

(ir/ir)

Sumber/kutipan dari :http://www.detikfinance.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: