Posts from the ‘Kelapa Sawit’ Category

Plastik dari Sawit

Siapa yang tak akrab dengan kantong-kantong plastik. Bahkan Agus Haryono, peneliti polimer di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tidak mampu benar-benar melepaskan diri darinya. Padahal Agus terhitung paham benar efek negatif plastik.

Plastik boleh jadi anak emas industri kimia sejak lebih dari setengah abad lalu. Disisipi plasticizer, Polyvinyl Chloride (PVC) yang identik dengan pipa serta bahan pengganti baja dan kayu dalam bidang konstruksi memang bisa melentur. Disisipi agen yang bisa membuatnya lentur, PVC bisa merambah kebutuhan bidang lainnya, seperti insulasi listrik, kemasan makanan, pakaian, dan medis.

Tapi di sinilah masalahnya. Agus menerangkan, beberapa penelitian membuktikan bahwa agen plasticizer yang jamak digunakan, yakni dioctyl phthalate (DOP), bisa memicu kanker dan beberapa kelainan hormon pada mencit. Bukan tidak mungkin terjadi pula pada manusia. “Sampai sekarang belum ada yang melarang (penggunaan plastik) mentang-mentang pengujian masih pada tikus,” kata Agus. “DOP masih menjadi bahan baku penting plastik karena murah.”

Agus menjelaskan, DOP adalah senyawa organik yang mudah larut dalam lemak, terutama pada suhu panas. Ini jelas berbahaya apabila plastik digunakan sebagai kemasan makanan. Adapun kantong-kantong darah dan cairan infus di bidang medis, misalnya, memang tidak melibatkan suhu hangat, tapi tetap saja ada risikonya. “Karena penggunaannya yang jangka panjang,” kata Agus.

Mulai 2004, Agus dan timnya mencoba mencari solusi alternatif untuk bahan baku plasticizer pengganti DOP. Pilihan jatuh pada senyawa turunan minyak sawit yang kalaupun terlarut akan tetap aman dikonsumsi tubuh. Yang penting, bahan tetap lentur dan mampu bertahan melawan panas.

Agus terinspirasi senyawa turunan minyak sawit itu oleh inovasi yang sudah lebih dulu dilakukan di Amerika Serikat yang memanfaatkan senyawa turunan minyak kedelai. “Kalau kedelai saja bisa, kenapa kelapa sawit yang banyak ditanam di Indonesia tidak bisa,” begitu pemikiran doktor berusia 39 tahun itu.

Pada tahun itu pula Agus mulai meneliti 11 macam jenis senyawa turunan minyak sawit dalam berbagai kandungan asam lemak dan panjang rantai karbon. Ia menyeleksi untuk mendapatkan komposisi senyawa yang mampu mempertahankan sifat fisik plastik, seperti ketika menggunakan DOP.

Pada 2005, Agus dan kawan-kawannya berhasil mendapatkan tiga yang paling bagus. Satu di antaranya adalah senyawa IPO alias isopropyl oleate. Dari segi harga, IPO memang yang paling bisa menyaingi harga DOP. Sebagai perbandingan, DOP dijual Rp 2.200 per liter, sedangkan IPO Rp 3.500 per liter.

Tapi penggunaannya belum bisa menggantikan DOP sepenuhnya. “IPO paling optimal adalah sebanyak 40-60 persen,” katanya. “Kalau 100 persen, campuran masih keras seperti seng.”

Agus sebenarnya masih punya satu alternatif lainnya yang lebih ampuh ketimbang IPO, yakni IBO atau isobutyl oleate. Senyawa yang satu ini bisa menekan penggunaan DOP sampai tersisa 20 persen saja. “Tapi harganya lebih mahal,” ujarnya.

Karena alasan itulah Agus dan Pusat Penelitian Kimia LIPI tetap memilih IPO untuk disiapkan ke dalam proses produksi tahun ini juga. “Ini sudah yang terbaik,” katanya sepekan lalu sambil menambahkan bahwa kecenderungan saat ini di dunia ketika DOP sudah mulai ditinggalkan.

Dimulai dengan proses pemurnian bahan-bahan pembantu, seperti alkohol, di laboratorium sendiri demi menekan biaya, mereka rencananya akan memproduksi 2 ton IPO. “Kenaikan harga bahan-bahan saat ini memang menyulitkan, tapi kami akan berusaha mencari pasar untuk IPO ini,” kata Agus. l wuragil.

Sumber : Tempointeraktif.com

Kalender Akademik Tahun Ajaran 2008/2009 Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Berikut Kalender Akademik Tahun Ajaran 2008 / 2009 yang berlaku pada Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi Bekasi :
(untuk memperbesar klik pada gambar !)

Untuk memperbesar tampilan, klik pada gambar !

Analisa Kuantitatif dan Contoh Aplikasinya Dalam Manajemen Produksi Blok di Perkebunan Kelapa Sawit

kebun-sawit1.jpg

PENDAHULUAN

Penggunaan matematika untuk pemecahan masalah telah dipergunakan manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Namun demikian, studi formal dan pemakaian aplikasi dari teknik kuantitatif dalam pengambilan keputusan praktis baru berkembang di abad ke dua puluh. Dewasa ini, keberadaan komputer telah menjadikan penggunaan analisa kuantitatif menjadi sangat berkembang.

Analisa kuantitatif adalah pendekatan sains untuk dipergunakan dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini menggunakan data, misalnya barang mentah yang dipergunakan dalam suatu pabrik, data tersebut diolah untuk dipergunakan dalam pengambilan keputusan. Proses Input-Output yang dilakukan pada data mentah untuk diolah menjadi informasi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan inilah yang menjadi jantung dari analisa kuantitatif.

Gambar 1: Proses Masukan Keluaran
[saat ini belum tersedia]

Proses Masukan keluaran adalah suatu penggambaran dari suatu sistim fisik (sistem operasional) yang mencerminkan proses transformasi dari masukan menjadi keluran melalui serangkaian mekanisme/proses dengan melibatkan sumber daya manusia dan bukan manusia (mesin, uang, baan baku, energi. Informasi, dan lain-lain). Semakin besar aktivitas sistem fisik, maka semakin kompleks permasalahan yang dihadapi.

Dalam memecahkan masalah, manajer harus mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif maupun kuantitatif. Misalnya, kita mungkin mempertimbangkan berbagai alternatif investasi, termasuk investasi dalam bentuk deposito di bank, investasi dalam pasar modal, dan investasi dalam real estate. Kita dapat mempergunakan analisa kuantitatif untuk menghitung tingkat keuntungan yang akan kita terima di kemudian hari dari investasi yang kita lakukan tersebut.

Analisa kuantitatif juga dipergunakan dalam perhitungan rasio keuangan dari balance sheet dari berbagai saham dari berbagai perusahaan. Berbagai perusahaan real estate juga telah mengembangkan program komputer yang menggunakan analisa kuantitatif untuk menganalisa arus kas dan tingkat pengembalian dari investasi dalam bidang properti.

Sebagai tambahan dalam analisa kuantitatif, faktor-faktor kualitatif harus juga dipertimbangkan. Masalah iklim, hukum dan perundangan, perkembangan teknologi, hasil pemilihan umum, dan lain sebagainya, yang merupakan faktor-faktor yang sulit untuk dikuantitatifkan.

Mengingat pentingnya faktor kualitatif, peran dari analisa kuantitatif dalam pengambilan keputusan menjadi sangat beragam. Ketika terdapat kesenjangan dalam faktor-faktor kualitatif, ketika masalah, model dan data masukan tetap sama, hasil dari analisa kuantitatif tetap dapat dipertanggungjawabkan dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai contoh, berbagai perusahaan menggunakan model kuantitatif inventory untuk menetapkan dengan pasti kapan harus memesan bahan mentah. Dalam berbagai kasus, analisa kuantitatif merupakan alat bantu yang berguna dalam proses pengambilan keputusan. Hasil dari analisa kuantitatif akan digabungkan dengan berbagai informasi kualitatif lainnya untuk pengambilan keputusan.

PENDEKATAN ANALISA KUANTITATIF

Pendekatan analisa kuantitatif terdiri atas pendefinisian masalah, pengembangan model, pengambilan data masukan, pengembangan solusi, pengujian solusi, analisa hasil, dan implementasi dari hasil (lihat gambar 2). Setiap langkah tidaklah harus dilakukan sampai selesai untuk memulai langkah berikutnya, dalam banyak kasus, satu atau beberapa langkah perlu disempurnakan atau diulang sebelum diambil kesimpulan akhir.

Gambar 2: Pendekatan Analisa Kuantitatif
[saat ini belum tersedia]

Pendefinisian Masalah

Langkah pertama dalam analisa kuantitatif adalah membangun pernyataan yang jelas tentang masalah yang ada. Pernyataan ini akan memberikan arah dari langkah-langkah berikutnya.

Dalam banyak kasus, mendefinisikan masalah adalah langkah yang paling sulit tetapi juga paling penting. Adalah penting untuk mencari tahu akar dari masalah yang ada. Satu masalah dapat saja terkait dengan masalah lainnya; menyelesaikan satu masalah tanpa mempertimbangkan masalah lainnya dapat saja menjadikan persoalannya menjadi tambah runyam. Jadi, adalah penting untuk menganalisa bagaimana solusi terhadap satu masalah akan mempengaruhi masalah lainnya atau terhadap situasi umum secara keseluruhan.

Membangun Model

Setelah kita dapat mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah membangun sebuah model. Secara sederhana, sebuah model adalah penampakan matematis dari suatu situasi.

Sekalipun kita mungkin tidak sadar, tetapi sebenarnya kita menggunakan model-model sepanjang kehidupan kita. Kita telah, barangkali, membangun model tentang perilaku manusia. Model yang kita bangun bisa dalam bentuk persahabatan didasarkan pada pertukaran kesamaan sikap akan hidup.

Seorang arsitek kadang membuat model dari bangunan yang akan dibangun. Seorang insinyur mesin membangun model dari suatu pesawat terbang dengan gambar yang menggambarkan bagaimana pesawat tersebut akan dibangun.

Perbedaan model dalam analisa kuantitatif adalah bahwa model dibangun dengan pernyataan matematis. Suatu model matematis adalah suatu set dari hubungan matematika. Setiap model matematis akan terdiri atas variabel dan parameter. Suatu variabel adalah kuantitas terukur yang dapat beragam atau tergantung pada perubahan. Variabel dapat dikontrol atau tak dapat dikontrol. Suatu variabel yang dapat dikontrol dinamakan variabel keputusan. Contoh dari variabel yang dapat diukur adalah berapa jenis inventory yang harus di-order.

Suatu parameter adalah kuantitas terukur yang inheren dalam suatu masalah. Biaya dari tambahan order terhadap permintaan adalah contoh dari suatu parameter. Dalam kebanyakan kasus, variabel adalah kuantitas yang tidak diketahui, sementara parameter adalah kuantitas yang diketahui. Setiap model haruslah dibangun dengan hati-hati. Model haruslah realistis, mudah dipahami dan dimodifikasi, dan data yang diperlukan dapat diperoleh.

Pengumpulan Data Masukan

Setelah model dibangun, kita harus mengumpulkan data yang dapat digunakan dalam model (data masukan). Memperoleh data yang akurat untuk digunakan di dalam model sangatlah penting, apalagi jika model tersebut menggambarkan suatu kenyataan, data yang salah akan membuat hasil yang salah pula. Situasi seperti ini dikenal dengan istilah garbage in garbage out (GIGO). Untuk suatu persoalan yang lebih besar, mengumpulkan data yang akurat merupakan salah satu langkah yang paling sulit dalam analisa kuantitatif.

Ada berbagai sumber yang dapat dipergunakan dalam pengumpulan data. Laporan perusahaan adalah salah satunya. Sumber lainnya adalah dengan melakukan wawancara dengan karyawan perusahaan atau dengan orang yang terkait dengan perusahaan.

Membangun Solusi

Membangun suatu solusi adalah dengan mendayakan model untuk sampai pada solusi masalah yang terbaik atau yang paling optimal. Dalam banyak kasus, hal ini membutuhkan suatu persamaan untuk suatu keputusan terbaik. Akurasi dari solusi akan sangat tergantung dari akurasi data masukan yang dipergunakan.

Menguji Solusi

Sebelum suatu solusi dapat dianalisa dan diimplementasikan, solusi tersebut perlu diuji secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan solusi akan sangat tergantung dari data masukan dan model yang digunakan, baik data masukan maupun modelnya perlu diuji.

Pengujian terhadap data masukan dan model yang digunakan terdiri atas keakurasian dan kelengkapan dari data yang dipergunakan dalam model. Data yang tidak akurat akan menghasilkan solusi yang tidak akurat pula. Salah satu cara untuk menguji data masukan adalah dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh dari sumber lain.

Model dapat dicek untuk memastikan bahwa model tersebut logis dan menggambarkan situasi nyata.

Analisa Hasil

Analisa dari hasil diawali dengan mempertimbangkan implikasi dari solusi yang diperoleh. Dalam banyak kasus, suatu solusi terhadap suatu masalah akan berakibat terhadap tindakan atau perubahan dari suatu proses operasional dalam suatu perusahaan. Tindakan atau perubahan ini perlu ditentukan dan dianalisa terlebih dahulu sebelum diimplementasikan.

Implementasi dari Hasil

Langkah terakhir adalah implementasi. Ini adalah suatu proses untuk menetapkan suatu solusi dalam suatu perusahaan. Hal ini dapat saja menjadi sangat sulit diluar yang dapat kita bayangkan. Sekalipun kita telah menghasilkan suatu solusi yang optimal dan dapat menghasilkan keuntungan Rupiah yang sangat besar, jika manajer-manajer menolak untuk berubah, maka segala upaya yang telah dilakukan hanya akan bernilai nol.

Pengalaman menunjukkan bahwa banyak analisa kuantitatif gagal diimplementasikan karena kegagalan dalam proses implementasinya.

Implementasi Analisa Kuantitatif dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit

Secara umum manajemen perkebunan kelapa sawit biasanya terdiri atas Kebun (Estate) yang dikepalai oleh seorang Estate Manager. Beberapa Estate Manager melapor kepada seorang Regional Controller (RC). Seorang Estate Manager membawahi beberapa Asisten Divisi. Seorang Asisten Divisi akan bertanggungjawab terhadap operasional Divisi, yang berkisar sekitar 700-1000 Hektar.

Secara sederhana, dalam lingkup satu Divisi dalam kebun, akan terdapat sekitar 30-an blok yang masing-masing mempunyai luasan 30-an Ha. Dalam satu kebun secara total akan memiliki sekitar 100-an blok dengan total hektar sekitar 3000-4000 Ha. Dengan skala luasan kebun yang demikian, maka tidaklah mudah bagi seorang Estate Manager untuk dapat memantau keseluruhan areal luasan kebunnya.

Karena itu seorang Estate Manager seharusnya hanya perlu memusatkan perhatian kepada sebagian saja dari seluruh areal kebunnya, tidak perlu seluruhnya. Dengan demikian konsentrasinya akan lebih fokus, dan action plan untuk memperbaiki blok-blok yang bermasalah tersebut dapat dilakukan dengan lebih fokus juga. Suatu alat manajemen agronomi yang dapat kita namakan sebagai “Analisa Hasil Panen Blok” dapat digunakan dalam perkebunan kelapa sawit. Alat ini memperbandingkan kinerja panen suatu blok dengan blok-blok lainnya, sehingga dapat diidentifikasi blok-blok mana saja yang kinerjanya relatif tidak sebaik bok-blok lainnya.

Secara teknis pembandingan kinerja blok ini didasarkan atas faktor-faktor yang mempengaruhi panen seperti kelas kesesuaian lahan, jenis bibit dan umur tanaman. Faktor lainnya yang juga dapat dipertimbangkan adalah potensi panen, yang dapat dijadikan sebagai Acuan pagi pencapaian hasil panen.

Tabel 1: Kelas Kesesuaian Lahan

tabel1-kelas-kesesuaian-lahan.jpg

Contoh dari potensi produksi untuk setiap umur dari kelas kesesuaian lahan S1, S2 da S3 adalah sebagaimana terdapat pada tabel 2.

Tabel 2: Hasil Panen per jenis bibit, kesesuaian lahan dan umur tanaman

tabel2-produktivitas.jpg

Ketika seorang Estate Manager ingin melihat kinerja blok-blok yang kinerjanya tidak bagus, maka dia bisa saja membuat suatu pedoman, bahwa dia hanya akan melihat 25% blok dengan kinerja paling tidak memuaskan dari seluruh blok yang ada. Maka dengan demikian dia hanya perlu memusatkan perhatiannya pada ke 25% dari seluruh blok yang ada di kebunnya.

Demikian pula bagi seorang Regional Controller (RC) yang membawahi 4-5 kebun dalam satu wilayahnya; jelas akan sulit untuk memantau kinerja seluruh blok yang ada dalam wilayah pantauan kerjanya. Untuk itu dia seharusnya mempunyai alat yang dapat membantu untuk berkonsentrasi ke beberapa wilayah tertentu dari seluruh areal yang ada di bawah pengawasannya.

Karena itu, tentunya bagi seorang Estate Manager ataupun Regional Controller, keberadaan suatu alat bantu yang dapat membantu mengidentifikasi blok-blok yang memerlukan perhatian lebih akan sangat membantu dalam manajemen kebun sehari-hari.

Perbandingan panen antar blok ini dapat dilakukan dengan membuat perbandingan langsung dari hasil panen setiap blok untuk jenis bibit dan tahun tanam yang sama. Misalnya, Blok A1, jenis bibit Marihat, tahun tanam 1998 (umur 5 tahun), panen pada tahun 2004 sejumlah 18 Ton/Hektar. Sedangkan Blok A2 jenis bibit Marihat, tahun tanam 1998 (umur 5 tahun), panen pada tahun 2004 sejumlah 22 Ton/Hektar. Maka dapat disimpulkna kinerja Blok A2 lebih baik dari Blok A1.

Dengan cara ini, maka kita dapat membandingkan keseluruhan kinerja Blok yang terdapat di dalam satu kebun dan membuat urutan peringkat dari Blok yang berkinerja paling tinggi hingga yang paling rendah. Jika diperlukan dan untuk memudahkan, dapat pula dilakukan kode pewarnaan dari masing-masing blok sesuai peringkat kinerjanya masing-masing (lihat gambar).

Dalam model pewarnaan blok ini diurutkan dari merah, kuning dan hijau. Merah menunjukkan kinerja paling rendah, sementara hijau menunjukkan kinerja paling tinggi. Dalam bahasa yang sederhana, blok-blok yang kinerjanya bagus dikenal sebagai “Green Block”, sedangkan blok-blok yang kinerjanya rendah dikenal sebagai “Red Block”.

Dalam pemahaman sistim, Red Block merupakan blok-blok yang perlu mendapatkan perhatian dari manajemen karena kinerjanya yang relatif tidak sebagus blok-blok yang lainnya. Namun dalam kenyataannya, seringkali munculnya Red Block ini dirasakan seperti sebuah hukuman selayaknya angka merah yang ada dalam rapot sekolah. Padahal, semestinya keberadaan Red Block dilihat sebagai alat yang membantu manajemen kebun untuk mengkonsentrasikan perhatiannya ke blok-blok tertentu saja.

Gambar 3: Contoh Pewarnaan Blok

block-color.jpg

Pembandingan Hasil Panen dengan Menggunakan Angka Potensi Produksi

Metode lain dalam pemeringkatan kinerja Blok adalah dengan membandingkan produksi blok tersebut dengan potensi produksinya. Angka potensi produksi merupakan suatu acuan yang dapat dipergunakan untuk memprediksi produksi tanaman kelapa sawit. Setiap jenis bibit kelapa sawit memiliki angka potensi produksinya masing-masing. Selain unik untuk masing-masing jenis bibit, angka potensi produksi ini juga sangat tergantung pada kelas kesesuaian lahan di mana bibit tersebut di tanam. Semakin baik kelas lahannya, tentu semakin tinggi angka potensinya.

Angka potensi produksi ini menjadi acuan standar dalam pengukuran kinerja produksi buah kelapa sawit. Sebagai misal, suatu blok dengan kelas lahan S1 yang ditanami bibit Marihat pada tahun 1998, maka pada tahun 2004 akan berumur 4 tahun, maka mempunyai angka potensi produksi setahun sebesar [10] Ton/Ha. Jika produksi blok tersebut hanya mencapai 8 Ton/Ha setahun, maka kinerja blok tersebut hanya mencapai 80% dari potensinya.

Sesungguhnya, penentuan potensi produksi kelapa sawit tidak dapat dilakukan secara mudah mengingat banyak faktor yang mempengaruhi seperti tipe tanah secara fisik maupun kimia, kondisi iklim (jumlah dan distribusi curah hujan), lama penyinaran, radiasi surya, agronomi praktis, manajemen, faktor sosial dan physikologi. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi satu sama lain yang dapat menurunkan dan menghilangkan produksi dari potensi yang dimiliki oleh tanaman.

Tiga konsep yang perlu dipahami apabila berbicara dengan produksi kelapa sawit yaitu :

1. Produksi secara genetik. Produksi secara genetik merupakan potensi produksi maksimal yang dimiliki oleh bahan tanaman pada suatu lingkungan tanpa atau sedikit mengalami hambatan baik faktor lingkungan, managemen maupun tehnis agronomi.
2. Site Yield Potential. Produksi yang dicapai oleh bahan tanaman tertentu sesuai dengan kondisi suatu tempat setelah mengalami hambatan oleh faktor-faktor pembatas yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia seperti faktor iklim, distribusi penyinaran, kondisi tanah.
3. Produksi Aktual. Produksi yang dicapai oleh bahan tanaman tertentu pada suatu lokasi setelah mengalami hambatan oleh faktor-faktor pembatas yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia maupun oleh faktor-faktor yang bersifat dapat menurunkan maupun menghilangkan produksi.

Dalam kaitannya dengan potensi produksi secara genetik para pemulia tanaman (plant breeder) dalam memilih induk (dura, pesifera) sebagai penghasil biji yang terpilih bukan hanya menggunakan kriteria produksi TBS (jumlah dan berat TBS) namun beberapa kriteria yang diperhitungkan sangat menguntungkan seperti potensi kandungan minyak, sifat pertumbuhan vegetatif, ketahanan terhadap penyakit dan penurunan sifat genetik (crown disease).

KESIMPULAN

Metoda kuantitaif yang dimanfaatkan sebagai alat pendukung keputusan merupakan model yang dibangun dengan menyederhanakan kondisi sesungguhnya yang ada di lapangan. Pemanfaatan metode kuantitatif dalam manajemen perkebunan kelapa sawit juga dibangun untuk memperudah aktivitas manajerial, terutama dalam pengamblan keputusan manajemen.

Dalam pengembangannya, tentu model yang dibangun tidak akan dapat mewakili seluruh variable terukur. Oleh karenanya harus dipahami bahwa tingkat kehandalan sistim harus dapat diterima pada suatu tingkat penerimaan tertentu dengan mempertimbangkan toleransi kesalahan yang mungkin terjadi.

Dalam penerapan aplikasi manajemen produktivitas blok panen kebun kelapa sawit, terlepas dari kesulitan untuk menetapkan angka potensi yang akurat, pemanfaatan angka potensi sebagai suatu “acuan” bagi pengukuran kinerja produksi tetap saja diperlukan. Hal ini dikaitkan dengan kebutuhan untuk mempunyai patokan standar bagi kinerja produksi tanaman kelapa sawit, dan untk memudahkan manajemen lapangan berdasarkan prinsip 80/20.

Daftar Pustaka

Barry Render dan Ralph M. Stair, Jr., 1997, Quantitative Analysis for Management, Sixth Ed., Prentice Hall International

Soepadiyo Mangoensoekardjo dan Haryono Semangun, 2005, Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit, Gadjah Mada University Press

Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebuan Marihat – Bandar Kuala, Pematang Siantar

Pemupukan Kelapa Sawit (4)

Persiapan dan Pelaksanaan Pemupukan

Persiapan

  1. Pembenahan piringan, pasar pikul, rorak, tapak kuda, tapak timbun dan lain-lain.
  2. Penghancuran pupuk yang menggumpal
  3. Takaran pupuk dibuat per jenis dan dosis pupuk. Sapu lidi pendek ( 15 Cm ) berbentuk kipas untuk penebaran pupuk.
  4. Luas areal yang dipremikan maksimal 30 % areal pemupukan hari itu.
  5. Persiapan : Kebutuhan jenis dan dosis pupuk dan jumlah pohon, tenaga penebar, pengecer, pengangkut pupuk, transportasi pupuk ke lapangan.

x
Pemupukan pada areal yang sering tergenang air tidak ada gunanya sebelum adanya perbaikan drainase atau pembangunan tapak timbun

x
Tapak timbun

  1. Formulir AU-58 untuk permintaan pupuk
  2. Membuat rencana harian
  3. Membuat peta rencana pemupukan harian
  4. Membuat Barchart rencana – realisasi pemupukan
  5. Menentukan letak SPB (5 – 10 ha/SPB) dan letak SPK ( > 2 ha/SPK)
  6. Tenaga pemupukan :

- Areal rata : 2 penabur + 1 pengecer

- Areal perengan : 3 penabur + 2 pengecer

  1. Pemupukan diangkut ke lapangan sebelum jam 06.00 wib. Penebaran pupuk dimulai jam 06.30 wib

Faktor Konversi Hara

From

To

Factor

NO3 N 0,226
NH3 N 0,82
(NH4)2 SO4 N 0,212
NH4 NO3 N 0,35
N NO3 4,427
N NH3 1,216
N (NH4)2 SO4 4,716
N NH4 NO3 2,857
K2O K 0,83
K K2O 1,205
KCl K2O 0,632
K2O KCl 1,58
CaO Ca 0,715
Ca CaO 1,399
CaCO3 CaO 0,56
CaO CaCO3 1,78
MgO Mg 0,603
Mg MgO 1,658
MgO Mg SO4 2,986
MgO Mg SO4 H2O 3,432
MgO Mg CO3 2,091

From

To

Factor

Mg SO4 MgO 0,335
Mg SO4 H2O MgO 0,29
Mg SO4 .7H2O MgO 0,16
Mg CO3 MgO 0,478
P2O5 P 0,436
P P2O5 2,291
Ca3(PO4)2 P2O5 0,458
P2O5 Ca3(PO4)2 2,182
SO2 S 0,5
SO3 S 0,4
SO4 S 0,333
Mo SO4 S 0,267
Mo SO4. H2O S 0,23
Mo SO4 .7H2O S 0,13
(NH4)2 SO4 S 0,25
S SO2 1,997
S SO3 2,496
S SO4 2,995
S Mg SO4 3,75
S Mg SO4 H2O 4,31
S Mg SO4 .7H2O 7,68
S (NH4)2 SO4 3,995

Pemupukan Kelapa Sawit (3)

Jenis Dan Sifat Pupuk

Sumber Hara

  1. Tanah
  2. Residu tanaman : Pelepah, Tandan Kelapa Sawit, Abu janjang, Limbah cair dan kacangan penutup tanah.
  3. Pupuk An-Organik : Tunggal, Campur, Majemuk, Majemuk khusus

Pupuk An-Organik

  1. Pupuk tunggal : Mengandung satu hara utama, tidak terlalu mahal per kg hara, mahal dibiaya kerja, mudah diberikan sesuai rekomendasi.

  2. Pupuk Campur : Campuran beberapa pupuk tunggal secara manual, sekali aplikasi, tidak semua pupuk dapat dicampur, keseragaman campuran beragam, sulit untuk diterapkan untuk tanaman menghasilkan.

  3. Pupuk Majemuk : Satu formulasi mengandung beberapa hara utama, harga per kg hara mahal, sekali aplikasi, mudah disimpan, biaya aplikasi murah, sulit diterapkan untuk tanaman menghasilkan.

  4. Pupuk Majemuk Khusus : Pupuk majemuk yang dibuat secara khusus, seperti dalam bentuk tablet atau pelet. Harga per satuan hara lebih mahal dibandingkan pupuk lainnya, efektivitas masih perlu diuji.

Sifat Pupuk

Sifat pupuk sangat beragam sehingga pemilihan pupuk hendaknya mengacu pada Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang telah ada.

Sumber Hara

Hara Utama

N P2O5 K2O MgO CaO B Cu S Cl
1. Pupuk Tunggal
- Urea N 46
- Ammonium Nitrat (AN) N 35
- Sulphate of Ammonia (SOA – ZA) N, S 21 24
- Rock Phosphate (RP) P, Ca 30 45
- Triple Super Phosphate (TSP) P, Ca 46 20
- Single Super Phosphate (SSP) P, Ca, S 18 25 11
- Muriate of Potash (MOP – KCl) K, Cl 60 35
- Sulphate of Potash (SOP-ZK) K, S 50 17
- Kieserite Mg, S 27 23
- Dolomit Mg, Ca 22 30
- Sulfur S 97
- Borate B 11
- Copper Sulphate (CuSO4.H2O) Cu 25 13
- Langbeinite K, Mg, S 22 18 22
2. Pupuk Majemuk
- Diammonium Phosphate (DAP) N, P 18 46
- NPK (12-12-17-2) N,P,K,Mg 12 12 17 2
- NPK (15-15-6-4) N,P,K,Mg 15 15 6 4
- NPK (15-15-15) N,P,K 15 15 16
3. Sisa – sisa Tanaman
- Abu tandan kosong K, Mg, Ca 4 40 6 5
- Tandan kosong N, K < 1 0,1 1,2 0,1 0,1
- Pelepah hasil tunasan N, P, K 0,5 0,1 0,8 0,1 0,1
- Limbah cair PKS N, K, Mg 0,4 0,2 1,3 0,4

Karakteristik Pupuk Urea dan ZA

Keterangan

Jenis Pupuk

Urea Z A
Kadar N (%) 42 – 46 21
Hara lain (%) 24 % S
Kelarutan dalam air (gr/ltr) 1.030 750
Reaksi agak masam masam
Higroskopisitas tinggi kurang
Pencucian/penguapan tinggi sedang
Ketersediaan mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

2,75 4,5

Karakteristik Pupuk Phosphate

Keterangan

Jenis Pupuk

RP-Gafsa RP-Maroco CIRP TSP SP-36
P2O5
(larut asam sitrat 2 %)
26,7 33,1 28 46 36
Hara Lain :

- CaO (%)

- Al2O3 + Fe2O3 (%)

- S (%)

49,8

0,2

-

48,2

0,18

-

35,7

9,3

-

18,3

0

-

-

-

5

Kelarutan dalam air
( gr/ltr )
0,125 > 99
Reaksi Netral – basa Netral – basa Netral – basa Masam Agak masam
Higroskopisitas
Kehalusan :

  • Mesh 80 (%)

  • Mesh 100 (%)

63

91

29

80

60

99

-

-

-

-

Ketersediaan Mudah Mudah Mudah Tidak tersedia Mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

- - - 1,75 2,25

Karakteristik Pupuk ZK dan KCl/MOP

Keterangan

Jenis Pupuk

ZK MOP/KCl
Kadar K2O (%) 49 – 53 21
Hara lain (%) 18 % S 47 % Cl
Kelarutan dalam air larut larut
Reaksi netral netral
Higroskopisitas
Ketersediaan mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

- 2,25
Karakteristik Pupuk Magnesium

Keterangan

Jenis Pupuk

Kieserite

Dolomit

Dolomit – Lokal

Kadar MgO (%) 27 18 – 22 2,9 – 37,7
Hara lain (%) 22 % S 40 % CaO 0,9 – 48 % CaO

0,04 – 4,21 % Fe2O3

35 – 45 % SiO2

Kelarutan dalam air Agak sukar sukar
Reaksi Agak masam Basa
Higroskopisitas
Kehalusan - Bervariasi

> 95 % (mesh 100)

Bervariasi

> 90 % (mesh 80)

Ketersediaan mudah mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

1,5 2 – 2,5

Pencampuran Beberapa Jenis Pupuk

Urea Z A R P SP-36 ZK MOP Kieserite Dolomit
Urea a N a a a N
Z A N a N x x a
R P a
SP-36 a N a x a N
ZK a x x a a a
MOP a x a a a a
Kieserite a
Dolomit N a N a a a
Keterangan :

  • a = Dapat dicampur
  • N = Pupuk dapat dicampur segera sebelum digunakan
  • x = Pupuk tidak dapat dicampur

Waktu Dan Frekwensi Pemupukan

Waktu Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan. Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
  2. Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan rea/Z A.
  3. Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/Z A minimal 2 minggu.
  4. Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.

Frekwensi Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan 2 – 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur – kondisi tanaman.
  2. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekwensi yang lebih banyak.
  3. Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya

Metode Pemupukan

Cara Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan dengan sistem tebar dan sistem benam (Pocket)
  2. Pada sistem tebar, pupuk ditebarkan di piringan pada jarak 0,5 meter hingga pinggir piringan pada tanaman muda, dan pada jarak 1 – 2,4 meter pada tanaman dewasa.
  3. Pada sistem pocket, pupuk diberikan pada 4 – 6 lubang pada piringan disekeliling pohon. Kemudian lubang ditutup kembali. Sistem pocket disarankan pada areal rendahan, areal perengan ataupun pada tanah pasiran yang mudah tercuci/tererosi.
  4. Pada tapak kuda, 75 % pupuk diberikan pada areal dekat tebing. Untuk mengurangi pencucian, pupuk ini sebaiknya diaplikasikan dengan sistem pocket.

Berdasarkan alat yang digunakan, Pemupukan dapat dilakukan secara manual, mekanis, maupun dengan Pesawat terbang.

  • Pemupukan manual paling umum dan mudah dilakukan.

  • Pemupukan mekanis menggunakan alat (traktor) penebar pupuk untuk areal yang relatif rata. Cara ini banyak diterapkan karena sulitnya memperoleh tenaga kerja pemupuk

  • Aerial spraying sesuai untuk aplikasi pupuk padaareal yang sulit terjangkau dan daerah yangsulit memperoleh tenaga kerja.

Aplikasi sistem tebar Pada areal perengan seperti ini aplikasi pupuk perlu dilakukan dengan sistem pocket.

Pemupukan Kelapa Sawit (2)

Unsur Hara yang Diambil Tanaman

Jumlah Unsur Hara yang diangkut oleh tanaman Kelapa Sawit dari dalam tanah per Ha/tahun.

Komponen

Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )

N
P
K
Mg
Ca
Pertumbuhan Vegetatif
40,9
3,1
55,7
11,5
13,8
Pelepah Daun yang ditunas
67,2
8,9
86,2
22,4
61,6
Produksi TBS (25 ton/ha)
73,2
11,6
93,4
20,8
19,5
Bunga Jantan
11,2
24
16,1
6,6
4,4
Jumlah
192,5
47,6
251,4
61,3
99,3

Sumber : Siahaan et.al (1990)

Jumlah Pupuk yang diangkut oleh Tanaman Kelapa Sawit per Ha/tahun

Komponan

Jumlah unsur Hara ( kg/ha/tahun )

Urea
SP-36
KCl
Kieserite
Dolomit
Pertumbuhan Vegetatif
88,9
19,7
354
70,7
86,8
Pelepah Daun yang ditunas
146,1
56,6
548
137,7
169
Produksi TBS (25 ton/ha)
159,1
73,8
594
127,9
156,9
Bunga Jantan
24,4
152,7
102
40,6
49,8
Jumlah
418,5
302,8
1.599
376,9
462,5

Dihitung berdasarkan data jumlah hara oleh Siahaan et.al (1990)

Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

  • Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.

  • Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.

  • Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 – 40 Cm.

  • Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.

  • Boron ditebarkan diketiak pelepah daun

  • ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktuyang berdekatan.

  • Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.

  • Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.

  • Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan Abu Janjang Kelapa Sawit.

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pada Tanah Gambut
:

Umur

(Bulan)*

Dosos Pupuk (gram/pohon)

Urea

Rock Phosphate

MOP
( KCl)

Dolomit

HGF-B

CuSO4

Lubang tanaman

-

-

-

-

-

25

3

100 150 200 100 - -

6

150 150 250 100 - -

9

150 200 250 150 25 -

12

200 300 300 150 - -

16

250 300 300 200 25 -

20

300 300 350 250 - -

24

350 300 350 300 50 -

28

350 450 450 350 50 -

32

450 450 500 350 - -

*) Setelah tanam di lapangan

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pada Tanah Mineral :

Umur

(Bulan)*

Dosos Pupuk (gram/pohon)

Urea

TSP

MOP
( KCl)

Kieserite

HGF-B

Rock Phosphate

Lubang tanaman - - - - - 500
1 100 - - - - -
3 250 100 150 100 - -
5 250 100 150 100 - -
8 250 200 350 250 20 -
12 500 200 350 250 - -
16 500 200 500 500 30 -
20 500 200 500 500 - -
24 500 200 750 500 50 -
28 750 300 1.000 750 - -
32 750 300 1.000 750 - -

*) Setelah tanam di lapangan

Pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM)

  • Sasaran pemupukan : 4 T ( Tepat jenis, dosis, waktu dan metode)

  • Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis tanah, produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman.

  • Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan sebaran curah hujan.

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan ( TM )
Pada Tanah Gambut :

Kelompok Umur

(Tahun)

Dosis Pupuk (kg/pohon/tahun)

Urea

Rock Phosphate

MOP
(KCl)

Dolomit

Jumlah

3 – 8 2,00 1,75 1,50 1,50 6,75
9 – 13 2,50 2,75 2,25 2,00 9,50
14 – 20 1,50 2,25 2,00 2,00 8,00
21 – 25 1,50 1,50 1,25 1,50 5,75

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Menghasilkan (T M )
Pada Tanah Mineral
:

Kelompok Umur

(Tahun)

Dosis Pupuk (gram/pohon)

Urea

SP-36

MOP ( KCl)

Kieserite

Jumlah

3 – 8 2,00 1,50 1,50 1,00 6,00
9 – 13 2,75 2,25 2,25 1,50 8,75
14 – 20 2,50 2,00 2,00 1,50 7,75
21 – 25 1,75 1,25 1,25 1,00 5,25

Pemupukan Kelapa Sawit

x

Peranan Unsur Hara

Nitrogen
  • Penyusunan protein, klorofil dan berperanan terhadap fotosintesa
  • Kekurangan Nitrogen menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat pertumbuhan.
  • Kelebihan Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, White Stripe dan berkurangnya buah jadi.
  • Penyebab defisiensi Nitrogen : Terhambatnya mineralisasi Nitrogen, aplikasi bahan organik dengan C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, pemupukan Nitrogen tidak efektif.
  • Upaya : Aplikasi secara merata di piringan,Tambah Urea pada tanaman kelapa sawit, aplikasi Nitrogen pada kondisi tanah lembab, kendalikan gulma.

x
Defisiensi N

x
Defisiensi N – drainase buruk
Defisiensi Cu – ujung daun kering

Phospor
  • Penyusun ADP/ATP, memperkuat batang dan merangsang perkembangan akar serta memperbaiki mutu buah
    Kekurangan P sulit dikenali, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing.
  • Indikasi kekurangan P : Daun alang-alang berwarna ungu, LCC sulit tumbuh dengan bintil akar yang sedikit.
  • Penyebab defisiensi P : P tanah rendah ( < 15 ppm ), Top Soil tererosi, kurangnya pupuk P dan kemasaman tanah tinggi.
  • Upaya : Aplikasi P dipinggir piringan/gawangan, kurangi erosi, tingkatkan status P tanah, dan perbaiki kemasaman tanah.
Kalium
  • Aktifitas stomata, aktifitas enzim dan sintesa minyak. Meningkatkan ketahanan terhadap penyakit serta jumlah dan ukuran tandan.
  • Kekurangan K menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua kering dan mati.
  • Kekurangan K berasosiasi dengan munculnya penyakit seperti Ganoderma.
  • Kelebihan K merangsang gejala kekurangan B sehingga rasio minyak terhadap tandan menurun.
  • Penyebab kekurangan K : K di dalam tanah rendah, kurangnya pupuk K, kemasaman tanah tinggi dengan kemampuan tukar kation rendah.
  • Upaya : Aplikasi K yang cukup, aplikasi tandan kelapa sawit, perbaiki kemampuan tukar kation tanah dan aplikasi pupuk K pada pinggir piringan.

x
x
Defisiensi K – Bercak oranye (Confluent Orange Spotting)

Magnesium (Mg)
  • Penyusun klorofil, dan berperanan dalam respirasi tanaman, maupun pengaktifan enzim.
  • Kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, kuning kecoklatan lalu kering.
  • Penyebab defisiensi Mg : Rendahnya Mg didalam tanah, kurangnya aplikasi Mg, ketidak seimbangan Mg dengan kation lain, curah hujan tinggi ( > 3.500 mm/tahun ), tekstur pasir dengan top soil tipis.
  • Upaya : Rasio Ca/Mg dan Mg/K tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2, aplikasi tandan kelapa sawit, gunakan Dolomit jika kemasaman tinggi, pupuk ditabur pada pinggir piringan.
x
Defisiensi Mg – Sisi daun yang terkena sinar matahari menguning.
Tembaga (Cu)
  • Pembentukan klorofil dan katalisator proses fisiologi tanaman.
  • Kekurangan Cu menyebabkan Mid Crown Clorosis (MCC) atau Peat Yellow. Jaringan klorosis hijau pucat – kekuningan muncul ditengah anak daun muda. Bercak kuning berkembang diantarajaringan klorosis. Daun pendek, kuning pucat kemudian mati.
  • Penyebab defisiensi Cu : Rendahnya Cu didalam tanah gambut atau pasir, tingginya aplikasi Mg, aplikasi N dan P tanpa K yang cukup.
  • Upaya : Perbaiki rendahnya K tanah, basahi tajuk dengan 200 ppm Cu SO4.
x - Defisiensi Cu – Ujung anak daun nekrosis
- Tumbuh kerdil
Boron
  • Meristimatik tanaman, sintesa gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein.
  • Kekurangan Boron menyebabkan ujung daun tidak normal, rapuh dan berwarna hijau gelap, daun yang baru tumbuh memendek sehingga bagian atas tanaman terlihat merata.
  • Penyebab defisiensi Boron : Rendahnya B tanah, tingginya aplikasi N, K dan Ca.
  • Upaya : Aplikasi 0,1 – 0,2 kg/pohon/tahun pada pangkal batang.

x
Pelepah memendek

x
Malformasi anak daun

x
Daun mengkerut

Fe
Tanda-tanda Defisiensi :

x
Ujung daun nekrosis
Tajuk atas menguning

x
Bercak seperti pulau
dengan dasar hijau

Mengenal Ketel Uap

Mengenal Ketel Uap

Boiler atau ketel uap merupakan salah satu penentu kualitas minyak kelapa sawit. Ia hampir menjadi sentra dalam berbagai tingkatan proses ekstraksi buah kelapa sawit (tandan buah segar) menjadi CPO dan produk turunannya.

Boiler merupakan peralatan utama pada industri pengolahan minyak sawit dan turunannya. Pabrik-pabrik kelapa sawit memakai boiler untuk merebus tandan buah segar (TBS) yang baru saja dipanen. Dalam proses perebusan, TBS dipanaskan dengan uap yang dihasilkan dari boiler pada temperatur 135 derajat celsius. Tujuan dari perebusan ini adalah memudahkan pemipilan brondolan dari tandannya, menghentikan perkembangan asam lemak bebas (free fatty acid), dan akan menyebabkan TBS melunak sehingga proses ekstraksi minyak menjadi lebih gampang.

Sedangkan di industri hilir, boiler digunakan untuk memanaskan tangki minyak, sementara uap panas yang dihasilkan dimanfaatkan pada proses pre-treatment dan vakum deodorizer. Di pabrik-pabrik fatty acid dan fatty alcohol, menggunakan steam boiler sebagai peralatan utama untuk memisahkan trigliserida dengan gliserol pada splitting tower.

Boiler atau lebih dikenal sebagai ketel uap pada dasarnya adalah sebuah bejana yang dipergunakan sebagai tempat untuk memproduksi uap (steam). Uap dari pemanasan air dalam boiler dilakukan pada temperatur tertentu untuk kemudian digunakan untuk berbagai keperluan. Berdasarkan jenisnya, ada beberapa boiler yakni, fire tuber boiler, atmospheric fluidized bed combustion boiler, water tube boiler, paket boiler, fluidizedbed combustion boiler, stoker fired boiler, boiler pemanas limbah, dan pemanas fluida termis.

Selama ini, masyarakat industri kelapa sawit, hulu sampai hilir, sudah sangat mengakrabi boiler ini. Hanya saja dari waktu ke waktu yang mengalami perkembangan adalah jenis bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler ini.
Yang lebih diketahui adalah boiler berbahan bakar minyak. Lalu, setelah harga minyak dunia meroket hingga hampir tak terjangkau, pelaku industri mulai beralih ke gas. Namun, rupanya suplai gas seringkali tidak kontinyu hingga kemudian batubara lah yang menjadi pilihan.

Dari sisi konsep, tidak terdapat perbedaan mencolok antara boiler berbahan bakar minyak, gas, maupun batubara. Boiler terdiri atas sistem air umpan, sistem steam, dan sistem bahan bakar. Pada Coal Fired Boiler yang berbahan bakar batubara, terdiri atas furnace atau tungku api yang dilengkapi dengan kipas tiup dan kipas hisap, pipa air, pipa api, serta sistem pembuangan.

Batubara yang akan dibakar dimasukkan melalui hopper ke chain grate stoker, semacam conveyor, kemudian masuk ke furnace (tungku pembakar) dengan kecepatan tertentu. Emisi panas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mengkonversi air umpan di dalam pipa menjadi uap. Uap inilah yang dipakai untuk memanaskan TBS di pabrik kelapa sawit (PKS) ataupun proses ekstraksi minyak sawit.
Batubara yang sudah habis terbakar akan dikeluarkan melalui sistem pembuangan abu yang berada di bawah tungku. Ada dua macam limbah pembakaran batubara yang terbentuk, yang mengendap (bottom ash) dan yang ringan (fly ash). Limbah yang mengendap akan turun ke saluran pembuangan sedangkan yang ringan akan dihisap dikeluarkanmelewati lapisan siklon. Karbondioksida dan gas sisa lainnya akan dikeluarkan melalui pipa yang dinamakan chimney.

Evaluasi Kinerja Boiler
Parameter kinerja boiler, seperti efisiensi dan rasio penguapan, akan mengalami penurunan terhadap waktu. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh buruknya pembakaran, kotornya permukaan penukar panas, dan buruknya pengoperasian serta pemeliharaan. Bahkan, untuk boiler yang baru sekalipun, alasan seperti buruknya kualitas bahan bakar dan kualitas air dapat mengakibatkan penurunan kinerja ketel uap.

Performa boiler dapat dilihat dari bagaimana neraca panas dan efisiensinya. Neraca panas menggambarkan keseimbangan energi total yang masuk boiler dan yang meninggalkan boiler dalam bentuk energi yang berbeda. Neraca dapat dilihat dari tingkat kehilangan energi yang terjadi dalam satu kali proses boiler.

Penyebab kehilangan energi ini ada yang tidak bisa dihindari dan ada yang bisa dihindari. Penyebab yang bisa dihindari misalnya, kehilangan pada gas cerobong, karena bahan bakar yang tidak habis terbakar, kehilangan dari blowdown, kehilangan pada kondensat, dan kehilangan akibat konveksi dan radiasi.

Seluruh potensi kehilangan tersebut bisa diminimalkan dengan pemeliharaan peralatan secara seksama, teliti, dan rutin. Selain itu, untuk mencegah kehilangan energi pada kondensat bisa dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan sebanyak mungkin kondensat.

Efisiensi Boiler Batubara
Salah satu unsur yang memengaruhi efisiensi boiler batubara adalah kualitas batubara terutama kandungan air batubara. Apalagi, seringkali ditemui tumpukan batubara yang digelar begitu saja hingga terkena hujan dan angin. Tambahan kelembaban dari iklim luar akan menurunkan nilai panas batubara dan meningkatkan energi pembakaran batubara pada boiler. Karena itu, sebisa mungkin penyimpanan stok batubara mengunakan atap penaung agar terhindar dari pengaruh iklim.

Banyak cara dicari peneliti dan periset industri untuk meningkatkan efisiensi boiler berbahan bakar batubara. Sebagian peneliti memilih memperbaiki sifat fisik perangkat boiler seperti menggunakan pelapis siklon. Namun, peneliti lainnya berpendapat bahwa efisiensi ketel uap batubara bisa dilakukan melalui campur tangan bahan kimia seperti penambahan batu kapur. Caranya, batubara digerus bersama batu kapur di pulverizer untuk kemudian dibakar melalui sistem Clean Combustion System (CCS). Hasilnya, gas panas yang bersih, panas, dan kaya bahan bakar untuk dialirkan ke boiler.
Pada dasarnya, penggunaan batubara pada boiler memang harus menerapkan pembakaran batubara yang bersih. Tuntutan ini, selain akan meningkatkan daya bakar batubara juga agar sesuai dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Membersihkan batubara artinya membuang mineral atau senyawa lain yang terkandung agar pembakaran batubara mendekati sempurna hingga efisiensinya tinggi.

Berbagai macam cara bisa ditempuh sebagai upaya membersihkan batubara. Untuk membuang sulfur yang berupa bintik kecil kekuningan dilakukan dengan memecah bongkahan batubara menjadi lebih kecil lalu mencucinya. Jika belum bersih juga, industri biasanya melakukan dnegan merendam batubara dalam tangki pencucian sampai menghasilkan endapan sulfur yang berikatan dengan pyritic di dasar tangki sedangkan batubaranya mengambang. Namun, untuk sulfur yang berikatan dengan unsur organik, proses pembuangan tidak akan berhasil dilakukan. Sebab, bentuk sulfur ini membutuhkan proses lanjutan yang memburuhkan teknologi tinggi dan biaya yang besar.

Sedangkan untuk mengurangi kadar nitrogen dalam batubara, industri biasanya menggunakan senyawa kimia yang berfungsi sebagai katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas yang tidak berpolusi.

Menangkal Dampak Batubara
Sudah menjadi konsekuensi setiap penerapan teknologi selalu membawa dampak buruk sebagai ikutan. Tak terkecuali penggunaan batubara. Selain dampak lingkungan berupa polutan, yang tidak kalah penting adalah pengaruh buruk pada pekerja yang sehari-hari berurusan dengan batubara sebagai sebuah sistem. Para operator mesin merupakan pihak yang sangat rentan terhadap gangguan fisik dan kesehatannya.

Pada umumnya, batubara yang digunakan sebagai bahan bakar, untuk berbagai industri, berbentuk serbuk. Serbuk ini tentu akan berpotensi terhisap dan masuk ke paru-paru melalui pernapasan.

Karena itu, sistem pertukaran udara di lokasi haruslah mendapat perhatian serius agar tersedia cukup oksigen untuk para operator mesin. Berbagai penyakit dapat timbul akibat masuknya debu batubara ke paru. Silikat yang biasanya terkandung dalam batubara bisa menyebabkan penyakit antrakosis yang berlanjut ke pneumonia yang membahayakan.

Untuk meminimalkan pengaruh buruk batubara, maka setiap operator diwajibkan memakai pelindung maksimal di hidung, mata, dan sebaiknya juga seluruh tubuh.

Cara Mudah Mengkomposkan Tandan Kosong Kelapa Sawit

TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) adalah limbah pabrik kelapa sawit yang jumlahnya sangat melimpah. Setiap pengolahan 1 ton TBS (Tandan Buah Segar) akan dihasilkan TKKS sebanyak 22 – 23% TKKS atau sebanyak 220 – 230 kg TKKS. Apabila dalam sebuah pabrik dengan kapasitas pengolahan 100 ton/jam dengan waktu operasi selama jam, maka akan dihasilkan sebanyak ton TKKS. Jumlah limbah TKKS seluruh Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan mencapai 18.2 juta ton. Jumlah yang luar biasa besar. Ironis sekali, limbah ini belum dimanfaatkan secara baik oleh sebagian besar pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia.

limbah tkks pabrik sawit
Gambar 1. TKKS di sebuah pabrik kelapa sawit

Pengolahan/pemanfaatan TKKS oleh PKS masih sangat terbatas. Sebagian besar pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia masih membakar TKKS dalam incinerator, meskipun cara ini sudah dilarang oleh pemerintah. Alternatif pengolahan lainya adalah dengan menimbun (open dumping), dijadikan mulsa di perkebuna kelapa sawit, atau diolah menjadi kompos.

Cara terakhir merupakan pilihan yang terbaik, namun cara ini belum banyak dilakukan oleh PKS karena adanya beberapa kendala, yaitu waktu pengomposan, fasilitas yang harus disediakan, dan biaya pengolahan TKKS tersebut. Dengan cara konvensional, dekomposisi TKKS menjadi kompos dapat berlangsung dalam waktu 6 bulan s/d 1 tahun. Lamanya waktu ini berimplikasi pada luas lokasi, tenaga kerja, dan fasilitas yang diperlukan untuk mengomposkan TKKS tersebut.

TAHAPAN PENGOMPOSAN TKKS

Pengompoasan dilakukan dalam beberapa tahap, pertama pencacahan, inokulasi dengan activator pengomposan, inkubasi, pemanenan kompos.

Pencacahan

Pencacahan adalah salah satu tahapan penting dalam pengomposan TKKS. Pencacahan ini bertujuan untuk memperkecil ukuran TKKS dan memperluas luas permukaan area TKKS. TKKS yang baru keluar dari pabrik pengolahan langsung dimasukkan ke mesin pencacah. Kapasitas mesin pencacah disesuaikan dengan volume TKKS yang dihasilkan pabrik. Mesin cacah ini sebaiknya dapat memperkecil ukuran TKKS menjadi kurang lebih 5 cm. Mesin dirancang secara khusus yang disesuaikan dengan karakteristik TKKS yang berserat-serat. Selain memperkecil ukuran, pencacahan juga akan mengurangi kadar air TKKS. Sebagian air akan menguap karena luas permukaan TKKS yang meningkat.

mesin pencacah
Gambar 2. Pencacahan TKKS dengan mesin pencacah

tkks yang telah dicacah
Gambar 3. Hasil cacahan TKKS ditampung di tempat penampungan

Inokulasi dengan Aktivator Pengomposan

Secara alami jika TKKS dibiarkan saja akan mengalami dekomposisi. Namun, dekomposisi ini memerlukan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan hingga satu tahun. Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat dapat ditambahkan activator pengomposan. Aktivator ini berbahan aktif mikroba decomposer. Mikroba-mikroba ini akan berperan aktif dalam pempercepat proses pengomposan. Mikroba yang umum digunakan sebagai decomposer adalah Fungi Pelapuk Putih (FPP) dan Trichoderma sp. Mikroba-mikroba ini menghasilkan enzim yang dapat mendegradasi senyawa lignoselulosa secara cepat.

Di pasaran saat ini telah beredar beberapa activator pengomposan, seperti ActiComp, OrgaDec, EM4, Biopos, dll. Setiap activator menghendaki perlakuan khusus dan spesifik yang bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Aktivator yang dikembangkan untuk mengkomposkan TKKS dan lebih sederhana penangananya adalah ActiComp. Aktivator ini berbahan aktif FPP dan Trichoderma harzianum yang berkemampuan besar dalam mendegradasi TKKS. Dengan menggunakan ActiComp pengomposan TKKS tidak memerlukan pembalikan lagi. Aktivator ini dicampurkan secara merata mungkin ke dalam TKKS. Aktivator yang merata akan menjamin bahwa activator akan bekerja secara optimal.

Kadar air yang optimal untuk pengomposan berkisar 60%. Kadar air TKKS sebelum proses pengomposan dimulai harus diupayakan dalam kisaran tersebut. Apabila kadar air kurang, proses pengomposan tidak berjalan sempurna. Salah satu penyebabkan adalah karena mikroba kekurangan air dan kelembaban tidak optimum untuk bekerjanya mikroba. Apabila kadar air terlalu tinggi, oksigen yang ada di dalam TKKS hanya sedikit, sehingga proses pengomposan akan berlangsung dalam kondisi anaerob.

Inkubasi

TKKS yang telah diinokulasi selanjutnya ditutup dengan terpal plastic. Penutupan ini bertujuan untuk menjaga kelembaban dan suhu kompos. Terpal plastik dipilih terpal yang cukup tebal, tahan panas, dan tahan matahari.

Selama proses pengomposan suhu kompos akan meningkat dengan cepat. Suhu kompos dapat mencapai 70oC. Suhu tinggi ini akan berlangsung dalam waktu cukup lama, kurang lebih 2 – 3 minggu. Suhu yang tinggi juga menunjukkan bahwa proses dekomposisi sedang berlangsung intensif. Suhu akan menurun pada akhir proses pengomposan. Salah satu ciri kompos yang sudah matang adalah apabila suhu kompos sudah kembali seperti suhu di awal proses pengomposan.
inkubasi
Gambar 4. Inkubasi selama 1,5 – 2 bulan

Beberapa activator memelukan pembalikan selama proses pengomposan. Pembalikan ini bertujuan untuk menurunkan suhu kompos dan memberikan aerasi pada kompos. Pembalikan biasanya dilakukan seminggu sekali. Namun, proses pembalikan memerlukan biaya yang cukup besar, terutama untuk tenaga kerja dan alat.

Proses pengomposan akan berlangsung dalam waktu 1,5 – 3 bulan. Pengomposan TKKS dengan ActiComp berlangsung dalam waktu 1,5 bulan. Kompos yang sudah matang dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut:

  • Terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman
  • Suhu sudah turun dan mendekati suhu pada awal proses pengomposan
  • Jika diremas, TKKS mudah dihancurkan atau mudah putus serat-seratnya

Pengamatan secara kimia ditunjukkan dengan rasio C/N yang sudah turun. Rasio C/N awal TKKS berkisar antara 50 -60. Setelah proses pengomposan rasio C/N akan turun dibawah 25. Apabila rasio C/N lebih tinggi dari 25 proses pengomposan belum sempurna. Pengomposan perlu dilanjutkan kembali sehingga rasio C/N di bawah 25.

Panen Kompos

Kompos yang sudah matang segera di panen. Kompos tersebut diangkut ke lokasi pengemasan atau tempat penampungan sementara kompos, sebelum diaplikasikan ke lapang. Rendemen kompos TKKS kurang lebih sebesar 60-65%. Dari satu ton TKKS dapat dihasilkan kompos sebanyak 600 – 650 kg kompos. Kadar air kompos juga masih cukup tinggi kurang lebih 50-60%. Apabila kompos terkena air hujan, kadar air ini bisa lebih tinggi lagi.

limbah tkks pabrik sawit

Gambar 5. Kompos TKKS

Peningkatan Kualitas Kompos

Kompos yang sudah dipanen dapat langsung diaplikasikan ke lapang, misalnya di perkebunan sawit. Namun demikian, kompos TKKS ini masih dapat ditingkatkan kualitasnya. Kualitas kompos yang dapat ditingkatkan antara lain dengan menurunkan kadar air kompos menjadi 20 – 30%, meningkatkan kandungan hara kompos dengan menambahkan bahan-bahan organic kaya hara lain, dan menambahkan mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman.

Kadar air merupakan permasalahan tersendiri bagi kompos. Kadar air yang tinggi menyebabkan biaya angkut yang tinggi. Misalkan kompos TKKS dengan kadar air 60%, maka dalam 1 ton kompos terkandung 0,6 m3 air (setara dengan 600 kg, bj air = 1) dan 400 kg padatan kompos. Biaya angkut kompos akan lebih besar digunakan untuk mengangkut air yang terkandung di dalam kompos tersebut. Apabila kadar air dapat diturunkan hingga 20 – 30 %, maka kadar kompos akan meningkat dua kali lipatnya.

Menurunkan kadar air kompos dilakukan dengan proses pengeringan. Cara sederhana untuk mengeringkan kompos adalah dengan menjemurnya di bawah sinar matahari. Namun cara ini banyak kelemahannya, antara lain: memerlukan tempat yang luas, waktu yang lama, kadar air yang sulit dikontrol, dan cuaca yang sulit diduga. Cara lain adalah dengan menggunakan mesin pengering kompos. Cara ini lebih mudah dan cepat, namun memerlukan tambahan energi dari luar.

Kandungan hara kompos kurang lebih sebagai berikut: 1 %N, …% P, ……%K, dan beberapa hara mikro. Kandungan ini dapat ditingkatkan antara lain dengan menambahkan bahan lain, seperti abu janjang, rock phosphate, dolomite, dll. Penambahan ini akan meningkatkan kandungan hara kompos.

Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) telah mengembangkan formula khusus mikroba untuk memperkaya kompos. Formula tersebut diberi nama ActiComp Plus yang berbahan aktif: mikroba perangsang pertumbuhan tanaman, mikroba penambat N non simbiotik, mikroba pelarut P, bakteri perangsang pertumbuhan tanaman, dan agensia hayati. Mikroba-mikroba ini akan berperan aktif dalam proses penyerapan hara tanaman dan melindungi tanaman dari serangan penyakit tular tanah.

NILAI EKONOMI

Biaya yang diperlukan untuk pengolahan kompos bervariasi yang tergantung dari teknologi yang digunakan, biaya tenaga kerja, dan fasilitas yang diperlukan. HPP (harga pokok produksi) kompos TKKS yang diolah dengan menggunakan ActiComp kurang dari Rp. 100/kg. Rendahnya biaya ini antara lain disebabkan karena teknologi ActiComp tidak memerlukan penyiraman dan pembalikan selama proses pembuatan kompos. Peningkatan kualitas kompos tentu saja akan meningkatkan HPP kompos. Peningkatan ini juga tergantung pada teknologi, bahan-bahan, peralatan, dan tenaga kerja.

Misalkan kompos tersebut dapat dijual dengan harga Rp. 350/kg – Rp. 400/kg. Maka selisih keuntungan kotor sebesar Rp. 250 – Rp. 350/kg kompos. Dalam satu pabrik yang menghasilkan TKKS sebanyak 60.000 Ton/tahun akan dihasilkan kompos sebanyak 3900 Ton dengan nilai Rp. 13.65 M- Rp. 15.6 M. Potensi keuntungan kompos ini adalah sebesar Rp. 9.75 M – Rp. 13.65 M. Jumlah yang tidak sedikit.

Energi Terbarukan dari Limbah Pabrik Kelapa Sawit

Naiknya harga gas Elpiji (LPG) membuat kita tersadar bahwa bahan bakar yang ditambang dari perut bumi lambat-laun akan habis. Ketersediaan bahan bakar gas Elpiji akan semakin menipis dan harganya pun akan semakin membumbung tinggi. Sudah saatnya kita beralih ke sumber energi yang dapat diperbaharui. Salah satunya energi terbarukan dari limbah pabrik kelapa sawit.

Energi dari bahan tambang seperti minyak bumi dan gas bumi diperkirakan akan habis dalam waktu yang relatif singkat. Mau tidak mau Indonesia harus segera mencari sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable energi) untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. Salah satu sumber energi terbarukan yang belum banyak dimanfaatkan adalah energi dari biomassa.
Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi telah menghitung potensi energi dari biomassa yang besarnya mencapai 50.000 MW, namun yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 302 MW. Salah satu biomassa yang jumlahnya sangat besar dan belum banyak dimanfaatkan adalah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) yang jumlahnya mencapai ribuan ton.
Limbah pabrik kelapa sawit sangat melimpah. Saat ini diperkirakan jumlah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia mencapai 28,7 juta ton limbah cair/tahun dan 15,2 juta ton limbah padat (TKKS)/tahun. Dari limbah tersebut dapat dihasilkan kurang lebih 90 juta m3 biogas. Jumlah ini setara dengan 187,5 milyar ton gas Elpiji. Jumlah biogas ini cukup untuk memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala keluarga) selama satu tahun.

BIOGAS

Biogas yang komponen utamanya gas metan (CH4) sebenarnya sudah mulai manfaatkan sejak beberapa puluh tahun yang lalu, namun tidak banyak dipergunakan masyarakat. Biogas yang dikenal masyarakat lebih banyak dihasilkan dari pengolahan kotoran ternak atau kotoran manusia. Sebenarnya biogas juga bisa dihasilkan dari biomassa yang lain.
Biogas lebih ramah lingkungan daripada BBM. Pembakaran biogas (metan) akan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Kedua gas ini sama seperti gas yang dikeluarkan dari hidung manusia. Bandingkan dengan BBM yang banyak menyebabkan polusi udara.
Satu m3 gas metan dapat diubah menjadi energi sebesar 4700 – 6000 kkal atau 20 – 24 MJ. Energi sebesar itu setera dengan energi yang dihasilkan oleh 0,48 kg gas Elpiji (LPG). Penggunaan gas metan tidak hanya menghasilkan energi yang besar tetapi juga lebih ramah lingkungan.
Gas metan adalah gas yang dihasilkan dari perombakan anaerobik senyawa-senyawa organik, seperti limbah cair kelapa sawit. Secara alami gas ini dihasilkan pada kolam-kolam pengolahan limbah cair PKS. Limbah cair yang ditampung di dalam kolam-kolam terbuka akan melepaskan gas metan (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Kedua gas ini merupakan emisi gas penyebab efek rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan. Selama ini kedua gas tersebut dibiarkan saja menguap ke udara.
Pembentukan gas metan melibatkan aktivitas mikroba yang sangat komplek. Beberapa kelompok mikroba tersebut secara bertahap akan merombak bahan organik di dalam limbah cair atau limbah padat hingga dihasilkan gas metan. Pertama, kelompok mikroba hidrolitik akan memecah-mecah bahan organik menjadi senyawa yang lebih kecil. Bahan organik komplek umumnya adalah polimer, hasil pecahannya adalah monomer-monomer. Hasil pemecahan bahan organik komplek tersebut antara lain: glukosa, asam amino, dan asam lemak.
Kedua, kelompok mikroba fermentasi asam. Kelompok mikroba ini akan merombak monomer-monomer organik menjadi asam, yaitu senyawa asam-asam organik, alkohol, dan keton. Tapap berikutnya kelompok mikroba acetogenik akan merombaknya menjadi asam asetat, CO2, dan H2. Selanjutnya kelompok mikroba menghasil metan (metanogenik) akan merubah asam-asam tersebut menjadi gas metan.
Perombakan bahan organik ini terjadi dalam kondisi tanpa oksigen (O2) yang disebut kondisi anaerob. Secara alami proses pembentukan gas metan ini sangat lambat dan gas yang dihasilkan juga sedikit. Untuk dapat merombak limbah PKS menjadi biogas dalam jumlah besar, diperlukan sedikit rekayasa.
Limbah cair ditempatkan pada tempat khusus yang disebut bioreaktor. Bioreaktor dapat diatur sedemikian rupa sehingga kondisinya optimum untuk memproduksi biogas. Dapat pula ditambahkan mikroba-mikroba yang akan mempercepat pembentukan gas metan.
Bioreaktor ditutup rapat yang tidak memungkinkan gas metan yang dihasilkan keluar dari bioreaktor. Gas metan dialirkan atau dipompa ke tangki penampungan. Gas yang sudah tertampung dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Gas metan dapat juga dimampatkan dan dicairkan yang kemudian ditampung di tabung-tabung yang lebih kecil, seperti layaknya tabung elpiji.
Proses pengolahan limbah padat TKKS menjadi biogas lebih sulit dibandingkan dengan limbah cair. TKKS adalah senyawa organik yang lebih komplek daripada limbah cair. TKKS harus dirobak atau didekomposisi terlebih dahulu sehingga mikroba metanogenik dapat memanfaatkannya untuk menghasilkan gas metan.

PEGEMBANGAN BIOGAS

Keunggulan gas metan terutama adalah sifatnya yang renewable (terbarukan) dan lebih ramah lingkungan dibandingkan BBM dan BBG. Gas metan dapat dihasikan dari limbah biomassa yang jumlahnya melimpah. Merombak limbah biomassa menjadi biogas selain dapat mensuplai kebutuhan energi juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
Potensi dan keunggulan energi biogas dari gas metan saat ini menjadi perhatian banyak pihak. Tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Siswanto dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia bekerjasama dengan salah satu PKS sedang mengembangkan teknologi biogas dari limbah cair dan padat kelapa sawit. Perusahaan besar dari Jepang, Mitshubishi, melakukan eksplorasi biogas dari limbah sawit secara besar-besaran di Malaysia mulai tahun 2004. COGEN bekerjasama dengan ASEAN melakukan beberapa proyek di biogas di beberapa negara ASEAN untuk mengembangkan energi terbarukan dari limbah biomassa. Bank Pembangunan Asia (ADB) pada tahun 2005 memberi bantuan dana sebesar $ 500.000 kepada pemerintah Indonesia untuk mengembangkan biogas dari limbah PKS.
Biogas telah dimanfaatkan secara luas di beberapa negara. Jerman mengembangkan mobil berbahan bakar biogas, misalnya bis, taxi, truk sampah, dan mobil-mobil lain. Di India telah beroperasi beberapa mobil roda tiga, kendaraan semacam bajaj, yang menggunakan bahan bakar biogas. Biogas juga dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Di pabrik-pabrik biogas dimanfaatkan untuk boiler atau untuk mesin pembangkit listrik.
Apabila pengembangan biogas dari limbah PKS ini berhasil di Indonesia, bukan tidak mungkin gas elpiji yang sekarang ini harganya membumbung tinggi akan digantikan oleh biogas yang harganya jauh lebih murah.

Limbah Cair Sawit

Gambar 1. Kolam limbah cair pabrik kelapa sawit menghasilkan gas metan

covered lagoon

Gambar 2.  Kapasitas total volume reaktor 4500 m3, dan laju pengumpanan 200 m3/hari dihasilkan biogas 10.000 m3/hari. PMKS memproduksi limbah 650 m3/hari diolah dalam 3 reaktor yang sama => 30.000. m3/hari setara dengan 15.000 L minyak solar industri, @ Rp 5000,00 =>Rp 75 juta/ hari = Rp 22,5 M./thn

semburan gas metan

Semburan gas metan setinggi 3 -4 m dari pipa berdiameter 6 inci.  Api ini tidak padam meskipun dihidupkan semalaman.

kompresor biogas

Biogas dari limbah sawit diuji coba dengan mesin kompresor. Mesin dimodifikasi sedikit agar bisa menggunakan dua bahan bakar: bensin dan gas. Percobaan ini berjalan dengan lancar.

Disalin dari tulisan : [Edwi Mahajoeno & isroi]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 59 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: