Posts from the ‘Kelapa Sawit’ Category

BOILER KETEL UAP (STEAM)

Untuk kebutuhan uap pengolahan TBS dan pembangkit tenaga listrik, dibutuhkan ketel uap sebagai sumber energi. Ketel uap yg dipergunakan adalah jenis ketel pipa air (Water Tube Boiler). Ketahanan ketel uap tergantung pada mutu air umpan dan mutu air ketel. Agar tidak terjadi pengapuran (Scalling) dan korosi air umpan dan air ketel harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

URAIAN

Satuan

SYARAT-SYARAT

Air Umpan

Air Ketel

· pH

· Alkalinitas PI

· Alkalinitas PR

· Alkalinitas Total

· Kesodaan Total

· DM Valus

· TDS

· Silika (SiO2)

-

ppm

ppm

ppm

ppm

-

ppm

ppm

7,5 – 9,5

-

-

20

Max. 10

-

Max. 100

Max. 120

10,3-11,5

Max. 300

Max. 300

Max. 700

-

12 – 16

Max.

2500

-

Cara mengoperasikan/Menghidupkan ketel uap

Ketel uap dapat dihidupkan bila telah

memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Tangki air umpan dalam keadaan penuh dengan mutu air menurut persyaratan air umpan

2. Pompa air umpan berada dalam kondisi yg baik (digerak-kan) oleh listrik maupun uap

3. Seluruh peralatan pengaman ketel uap dalam kondisi yg baik

4. Tinggi permukaan air dlm ketel sesuai dengan batas yang ditentukan

5. Dapur dalam keadaan bersih

6. Bahan bakar cukup tersedia

Urutan menghidupkan ketel adalah :

Setelah persyaratan tersebut di atas dipenuhi, maka

ketel uap dapat dihidupkan dengan urutan-urutan

sebagai berikut:

  1. Buka kran buang udara pada drum superheater
  2. Spei air pada glas penduga (Peil Glas)
  3. Hidupkan pompa air pengumpan dan buka kran buang-an air pada drum (Blow Down) selama ± 1 [mnt]
  4. Tutup kran tersebut, ketinggian air diatur sampai batas yang ditentukan
  5. Nyalakan api
  6. Setelah api cukup besar, hidupkan IDF (Pintu dapur tertutup)
  7. Hidupkan Konveyor bahan bakar
  8. Hidupkan FDF dan dijaga agar tekanan udara dalam ruang bakar 10 – 30 [mm Hg]
  9. Pada tekanan 5 [kg/cm2] pompa uap dicoba
  10. Pada tekanan 10 [kg/cm2] air kondensat pada pipa di-buang dengan tekanan 10 [kg/cm2]. Air kondensat dlm pipa-pipa dibuang dengan membuka kran selama ½ [mnt]
  11. Tutup kran buang udara pada drum superheater danbuka kran uap induk perlahan-lahan sampai terbuka penuh.
  12. Naikkan tekanan ketel sampai tekanan kerja

Menghentikan Ketel Uap

  1. Hentikan fuel konveyor, fuel feeder, blower dan tarik api
  2. Turunkan takanan dengan mengadakan sirkulasi air dan blow down
  3. Buka kran buangan sampai pada superheater
  4. Buka kran kondensat
  5. Tutup kran uap induk
  6. Atur level air pada ketel dengan ketinggian 75 [%]pada glass penduga, selanjutnya matikan pompa air dan Chemical Pump
  7. Tutup kran uap pada deaerator dan feed tank

Pada garis besarnya Ketel Uap terdiri dari :

  1. Ruang pembakar
  2. Drum atas
  3. Pipa uap pemanas lanjut (Superheater)
  4. Drum Bawah
  5. Pipa-pipa air (Header)
  6. Pembuangan abu (Ash Hopper)
  7. Pembuangan gas bekas
  8. Alat-alat pengaman
  9. dll

RUANG PEMBAKAR (DAPUR)

Ruang bakar terbagi 2 (dua) bagian, yaitu :

1. Ruang pertama berfungsi sebagai ruang pembakaran, se-bagai pemanas yg dihasilkan diterima langsung oleh pipa-pipa air yg berada di dlm ruangan dapur tsb (pipa-pipa air) dari drum keheader samping kanan/kiri

2. Ruang kedua merupakan ruang gas panas yg diterima dari hasil pembakaran dlm ruang pertama.Dlm ruang ke dua ini sebagian besar panas dari gas diterima oleh pipa-pipa air drum atas ke drum bawah. Dlm ruang pembakaran pertama udara pembakaran ditiupkan oleh blower Forced Draft Fan (FDF) melalui lubang-lubang kecil sekeliling dinding ruang pembakaran dan melalui kisi-kisi bagian bawah dapur (Fire Grates)

Jumlah udara yg diperlukan diatur melalui klep (Air Draft Controller) yg dikendalikan dari panel saklar ketel. Sedangkan dlm ruang kedua , gas panas dihisap Blower (Induced Draft Fan) sehingga terjadi aliran panas dari ruangan pertama ke ruang kedua dapur

Pembakaran Di dlm ruang kedua dipasang sekat-sekat sedemikian

rupa yg dapat memperpanjang permukaan yg dilalui gas panas, supaya gas panas tersebut dapat memanasi seluruh pipa air, sebagian permukaan luar drum atas dan seluruh bagian luar drum bawah.

DRUM ATAS

Drum atas berfungsi sebagai tempat pembentukan uap yang dilengkapi dengan sekatsekat

penahan butir-butir air untuk memperkecil kemungkinan air terbawa uap

DRUM BAWAH

Drum bawah berfungsi sebagai tempat pemanasan air ketel yang di dalamnya di pasang plat-plat pengumpul endapan lumpur untuk memudahkan pembuangan keluar (Blow Down)

PIPA UAP PEMANAS LANJUT

Uap asal penguapan di dalam drum atas belum dapat dipergunakan untuk Turbin Uap, oleh karenanya harus dilakukan pemanasan uap lanjut

melalui pipa uap pema-nas lanjut (Superheater Pipe), hingga uap benar-benar kering dengan temperatur 260 – 280 [oC]Pipa-pipa pemanas uap lanjut dipasang di dlm ruang

pembakaran kedua, hal ini mengakibatkan uap basah yang dialirkan melalui pipa tersebut akan mengalami panas lebih lanjut.

PIPA AIR (HEADER)

Pipa-pipa air berfungsi sebagai tempat pemanasan air ketel yg dibuat sebanyak mungkin hingga penyerapan panas lebih merata dengan efisiensi tinggi, pipa-pipa

ini terbagi dalam :

  • Pipa air yg menghubungkan drum atas dgn header muka atau belakang
  • Pipa air yg menghubungkan drum dengan header samping kanan atau samping kiri
  • Pipa air yg menghubungkan drum atas dengan drum bawah
  • Pipa air yg menghubungkan drum bawah dengan header belakang

PEMBUANGAN ABU (Ash Hopper)

Abu yg terbawa gas panas dari ruang pembakaran pertama terbuang/jatuh di dlm pembuangan abu yg berbentuk kerucut

PEMBUANGAN GAS BEKAS

Gas bekas setelah ruang pembakaran kedua dihisap oleh blower isap (Induce Draft Fan) melalui saringan abu (Dast Colector) kemudian dibuang ke udara bebas melalui cerobong asap (Chimney) Pengaturan tekanan di dlm dapur dilakukan pada corong keluar blower (Exhaust) dengan katup yg diatur secara otomatis oleh alat hidrolis (Furnace Draft Control)

ALAT PENGAMAN

Mengingat bahwa tekanan kerja dan temperatur ketel yg tinggi, maka ketel harus dilengkapi dengan alat-alat pengaman sebagai berikut :

1. Katup Pengaman (Safety Valve)

Alat ini bekerja membuang uap apabila tekanan melebihi dari tekanan yg telah ditentukan sesuai dengan penyetelan katup alat ini.Umumnya pada katup pengaman tekanan uap

basah (Saturated Steam) diatur pada tekanan 21[kg/cm2], sedang pada katup pengaman uap kering tekanannya 20,5 [kg/cm2]Penyetelan hanya dilakukan bersama dengan

petugas IPNKK setelah adanya pemeriksaan berkala.

2. Gelas Penduga (Sight Glass)

Gelas penduga adalah alat untuk melihat tinggi air di dlm drum atas, untuk memudahkan pengontrolan air dalam ketel selama operasi.Agar tidak terjadi penyumbatan-penyumbatan pada kran-kran uap dan air pada alat ini, maka perlu diadakan penyepuan air dan uap secara periodic pada semua kran minimal setiap 3 (tiga) [jam] Gelas penduga ini dilengkapi dengan alat pengontrolan air otomatis yg akan berbunyi Bellnya dan lampu merah akan menyala pada waktu kekurangan air. Pada waktu kelebihan air juga akan

berbunyi dan lampu hijau yg akan menyala.

3. Kran Spei air (Blow Down Valve)

Kran spei air ini dipasang 2 (dua) tingkat, satu buah kran buka cepat (Quick Action Valve) dan satu buah lagi kran ulir. Bahan dari kedua kran ini dibuat dari bahan yg tahan tekanan dan temperatur tinggi

4. Pengukur Tekanan (Manometer)

Manometer adalah alat pengukur tekanan uap di dlm ketel yg dipasang satu buah untuk tekanan uap panas lanjut dan satu untuk tekanan uap basah. Untuk menguji kebenaran penunjukan alat ini, pada setiap manometer dipasang kran cabang tiga yg

digunakan untuk memasang manometer penara(Manometer Tera)

5. Kran Uap Induk

Kran uap induk berfungsi sebagai alat untuk membuka dan menutup aliran uap ketel yg

terpasang pada pipa uap induk. Alat ini dibuat dari alat tahan panas dan tekanan tinggi

6. Kran Pemasukan Air

Kran pemasukan air 2 (dua) buah yaitu satu kran ulir dan lainnya kran satu arah (Non Return Valve).Kedua alat ini terbuat dari bahan yg tahan panas dan tekanan tinggi

7. Lain-lain

Perlengkapan lain yg diperlukan untuk ketel uap

adalah :

  • Alat penghembus debu pada pipa air ketel (Mechanical Soot Blower)
  • Pemasukan air ketel otomatis (Automatic Feed Regulator)
  • Panel-panel listrik komplit dengan alat-alat ukur
  • Meter pencatat tekanan dan temperature (manometer & Temperatur Recorder)
  • Kran-kran buangan udara, air kondensat, Header

Hal-hal yg perlu diperhatikan pd saat operasi :

    1. Untuk memperoleh pembakaran yg baik, pemasukan bahan bakar harus diatur dengan merata.
    2. Bahan bakar harus cukup kering dan perbandinganbahan bakar cangkang dan ampas diatur 1 : 3
    3. Tinggi air dlm ketel uap diatur agar berada pada perte-ngahan gelas penduga dan diusahakan tetap stabil
    4. Hindarkan udara dingin masuk dlm ruang pembakaran melalui pintu depan
    5. Pintu-pintu dapur ketel tertutup
    6. Panas air umpan dijaga agar minimal 80 [oC]
    7. Pemakaian bahan kimia dlm ketel (Internal Water Treatment) secara terus menerus selama ketel beroperasi dilakukan dengan dosis yg telah ditentukan
    8. Lalukan peniupan abu setiap 3 [jam] sekali

Lakukan spei air ketel (Blow Down) sesuai dengan analisa TDS air ketel dengan ketentuan sebagai berikut :

      • TDS 2500 ppm, spei setiap 3 [jam]
      • TDS 2000 ppm, spei setiap 4 [jam]
      • TDS 1500 ppm, spei setiap 6 [jam]
      • TDS 1000 ppm, spei setiap 8 [jam]
      • Jika pada pengoperasian ketel dijumpai uap basah karena kelebihan air, maka :
      • Kran-kran air kondensat pada pipa uap dibuka
      • Kurangi air dalam ketel dengan cara spei
      • Uap basah karena membusa (Foaming), Maka :
      • Buka kran air kondensat pada pipa induk
      • Tutup kran uap ke Turbin
      • Adakan spei air (Blow Down) tetapi sebanding dgn penambahan air dalam ketel Jika air yg membusa ini berkelanjutan dlm waktu lama, maka ketel harus dihentikan, diadakan penggantian air dan dicari penyebab pembusaannya, atau besar kemungkinan air bercampur minyak.
      • Dalam hal ketel kekurangan air, sedangkan pompa air ketel tidak dapat beroperasi, lakukan tindakan pengaman-an sebagai berikut :
      • Tarik api (bahan bakar yang ada di ruang bakar)
      • Tutup kran induk
      • Hentikan Induced Draft Fan dan Forced Draft Fan
      • Tutup semua pintu setelah selesai tarik api agar udara dingin tidak masuk ke dalam dapur
      • Periksa penyebab pompa tidak beroperasi dengan baik Jangan memakai air untuk mematikan api dlm dapur. Pembersihan dan pemeriksaan rutin pada bagian luar dan dalam ketel dilakukan setiap minggu, dan pemerik-saan berkala oleh PNKK, 2 tahun sekali.

Sumber/kutipan dari : http://blogchex.com

Boiler [ Ketel Uap ]

Boiler [ Ketel Uap ]

Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air dididihkan sampai menjadi steam, volumnya akan meningkat sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik.
Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan perbaikan. Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem. Air yang disuplai ke boiler untuk dirubah menjadi steam disebut air umpan. Dua sumber air umpan adalah: (1) Kondensat atau steam yang mengembun yang kembali dari proses dan (2) Air makeup (air baku yang sudah diolah) yang harus diumpankan dari lua r ruang boiler dan plant proses. Untuk mendapatkan efisiensi boiler yang lebih tinggi, digunakan economizer untuk memanaskan awal air umpan menggunakan limbah panas pada gas buang.
Sumber/kutipan dari :http://errysusetyo.blogspot.com

HPE CPO April US$ 515/MT

Pemerintah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) Crude Palm Oil (CPO) untuk periode 1-30 April 2009 sebesar US$ 515 per metrik Ton

HPE CPO di bulan April ini lebih tinggi dibanding Maret 2009 yang sebesar US$ 480/MT.

Karena HPE CPO yang digunakan di bulan April masih di bawah US$ 700/MT maka pajak ekspor tidak ada alias nol.

HPE CPO baru itu tertuang dalam Permendah No 11/M.DAG/PER/3/2009 tertanggal 25 Maret 2009 dan berlaku mulai 1 April 2009.

Mendag Mari Elka Pangestu dalam pengumuman yang dikutip, Sabtu (28/3/2009) menjelaskan tarif bea keluar untuk komoditi Kelapa Sawit dan turunannya berpedoman pada harga referensi yang didasarkan pada harga rata-rata CPO CIF Rotterdam satu bulan sebelum Penetapan HPE. Dimana harga rata-rata yang dipakai adalah sebesar US$ 588,38/MT.

Berikut HPE kelapa sawit, CPO dan produk turunannya periode 1-30 April 2009.

  • Buah dan kernel kelapa sawit HPE US$ 221/MT
  • Crude Palm Oil (CPO) HPE US$ 515/MT
  • Crude Olein HPE US$ 578/MT
  • Crude Stearin HPE US$ 424/MT
  • Crude Palm Kernel Oil (CPKO) HPE US$ 512/MT
  • Crude Kernel Stearin HPE US$ 512/MT
  • Crude Kernel Olein HPE US$ 512/MT
  • RBD Palm Oil HPE US$ 588/MT
  • RBD Palm Kernel Olein HPE US$ 554/MT
  • RBD Palm Kernel Stearin HPE US$ 764/MT
  • RBD Palm Stearin HPE US$ 434/MT
  • RBD Palm Kernel Oil HPE US$ 539/MT
  • RBD Palm Oil HPE US$ 557/MT
  • Biodiesel dari Minyak Sawit HPE US$ 613/MT

Sementara Berdasarkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, maka diputuskan bea keluar baru.

Terhadap penetapan dan pengenaan tarif bea keluar terhadap barang ekspor berupa kelapa sawit dan CPO dan produk turunannya, maka berlaku ketentuan:

  • Untuk harga referensi hingga US$ 700 per ton, maka tarif bea keluarnya adalah 0%
  • Untuk harga referensi US$ 701-750 per ton, maka bea keluarnya adalah 1,5%
  • Untuk harga referensi US$ 751-800 per ton, maka bea keluarnya adalah 3%
  • Untuk harga referensi US$ 801-850 per ton, maka bea keluarnya adalah 4,5%
  • Untuk harga referensi US$ 751-900 per ton, maka bea keluarnya adalah 6%
  • Untuk harga referensi US$ 901-950 per ton, maka bea keluarnya adalah 7,5%
  • Untuk harga referensi US$ 951-1.000 per ton, maka bea keluarnya adalah 10%
  • Untuk harga referensi US$ 1.001-1.050 per ton, maka bea keluarnya adalah 12,5%
  • Untuk harga referensi US$ 1.051-1.100 per ton, maka bea keluarnya adalah 15%
  • Untuk harga referensi US$ 1.101-1.150 per ton, maka bea keluarnya adalah 17,5%
  • Untuk harga referensi US$ 1.151-1.200 per ton, maka bea keluarnya adalah 20%
  • Untuk harga referensi US$ 1.201-1.250 per ton, maka bea keluarnya adalah 22,5%
  • Untuk harga referensi lebih dari atau sama dengan US$ 1.251 per ton, maka bea keluarnya adalah 25%.

Harga referensi tersebut ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan dengan berpedoman pada harga CPO CIF Rotterdam.

(ir/ir)

Sumber/kutipan dari :http://www.detikfinance.com

Pakan Sapi Limbah Sawit

Limbah sawit: pelepah, daun, dan bungkil inti sawit, sudah lama menjadi masalah di Desa Sebelat, Bengkulu. Namun, sekarang limbah itu justru menjadi sumber pakan ternak istimewa. Selain membuat sapi-sapi lebih kuat, pertambahan bobot mencapai 0,6 kg/hari.

Desa Sebelat salah satu daerah inti plasma sawit binaan PT Agricinal dengan luasan lahan tertanam mencapai 6.000 hektar. Di sanalah John-penduduk setempat-mengandalkan sapi bali untuk membawa buah segar sawit. ‘Seekor sapi bisa mengangkut 200 kg tebas buah segar (TBS),’ ujar John. Total jenderal ada 299 pemetik sawit seperti John dengan 3.000 sapi.

Selama ini sapi-sapi itu hanya diberi pakan hijauan. Pelepah dan daun sawit dibiarkan mengering tidak termanfaatkan. ‘Lahan sawit jadi kotor,’ kata Bungaran P Manurung, kepala Bidang Peternakan PT Agricinal. Dengan pakan hijauan seringkali sapi-sapi itu mogok berjalan saat membawa TBS ke tempat penampungan sawit. ‘Jalannya terjal sehingga sapi-sapi seperti kelelahan. Tapi setelah diberi pakan sampah sawit jalan mereka lebih kuat,’ tambah Bungaran.

Pelepah dan daun

Limbah sawit merupakan alternatif baru pakan ternak yang kaya gizi. Menurut Prof Dr Ir I Wayan Mathius MSc, 70% limbah sawit dapat dimanfaatkan ruminansia sebagai pengganti pakan hijauan: rumput dan jerami. Yang dimaksud limbah adalah pelepah, daun, dan batang sawit. Berdasarkan penelitian Mathius setiap pohon sawit menghasilkan 22 pelepah/tahun dengan bobot masing-masing 7 kg. ‘Sehektar lahan dengan 130 pohon kelapa sawit bisa didapat 20.020 kg pelepah segar/tahun,’ ucap koordinator Program Penelitian Balai Penelitian Veteriner di Ciawi, Jawa Barat, itu. Dari pelepah itu terkandung 26,06% bahan kering atau 5.271 kg/ha yang mudah dicerna sapi.

Setiap pelepah menghasilkan 0,5 kg daun yang bermanfaat sebagai pakan hijauan. Angka itu setara dengan 658 kg/ha/tahun bahan kering daun. Limbah lain yang dapat digunakan adalah batang. Namun, penggunaannya tergantung waktu peremajaan pohon-setelah melewati umur produktif, 25 tahun. Sayangnya, kandungan nutrisi pada batang dan dampaknya terhadap ternak belum diteliti lebih jauh.

Saat pengolahan TBS dari lahan seluas 1 ha dapat diperoleh hasil ikutan (dalam bentuk bahan kering) berupa 1.132 kg lumpur sawit (solid), 514 kg bungkil inti, 2.681 kg serat perasan, dan 3.386 kg tandan kosong. Hasil ikutan itu dapat dipakai sebagai pakan tambahan. Total jumlah limbah dan hasil ikutan pengolahan TBS menghasilkan pakan sebesar 12.950 kg/ha. Angka itu lebih tinggi dari daya konsumsi bahan kering sapi yang hanya 3,5% dari bobot tubuh.

Kaya nutrisi

Bukan tanpa alasan limbah sawit dipakai sebagai pakan. ‘Kandungan nutrisinya lebih baik daripada pakan hijauan,’ kata alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor itu. Pelepah dan daun pun kaya serat. Bahkan dalam jangka panjang pemberian pelepah dapat meningkatkan kualitas karkas. Idealnya sapi butuh 13% protein. Angka itu tercukupi dari bungkil inti sawit yang nilai proteinnya mencapai 14-16%. Sumber protein lain adalah lumpur sawit (solid) sebesar 12%, serat perasan 6%, dan tandan kosong 3%.

Pakan limbah sawit tidak dapat diberikan langsung. Limbah diolah dengan dicacah, digiling, dan diberi tekanan uap yang dikombinasikan dengan perlakuan kimia-pemberian NaOH dan Urea-serta biologis (fermentasi). Pencacahan dilakukan pada pelepah dan daun. Selain dicacah, agar kandungan nutrisi pelepah meningkat dilakukan proses aminiasi, penambahan molases, alkali, pembuatan silase, tekanan uap tinggi, dan peletisasi. Secara kimiawi, penambahan 8% NaOH dapat meningkatkan daya cerna bahan kering pelepah menjadi 58% dari 43,2%. Bahan jadi itu kemudian dibentuk kubus dengan ukuran 1-2 cm3.

Menurut Mathius pencacahan dilakukan agar lidi daun yang sulit dicerna sapi terpisah. Setelah dikeringkan daun digiling lalu dibuat seperti pelet. Agar kecukupan nutrisi terpenuhi, limbah dan pengolahan sampah TBS dicampur menjadi satu dengan memakai teknologi fermentasi. Setelah itu dibentuk seperti balok. Penelitian Mathius menunjukkan perbandingan cacahan pelepah, solid, dan bungkil inti sawit 1:1:1 mampu meningkatkan bobot sapi 0,338 kg/hari. Namun, jika dikombinasikan dengan teknologi fermentasi dan penambahan mineral serta vitamin, peningkatan bobot menjadi 0,6 kg/hari.

Suplemen pakan

Di luar limbah sawit, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak juga dikembangkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Bahan yang dipakai campuran Urea, molase, onggok, dedak, tepung tulang, lakta mineral (kalsium dan sulfur), garam dapur, tepung kedelai, dan kapur. Berdasarkan uji lapangan pada peternak di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Lampung, diperoleh kenaikan bobot 1,2 kg/hari untuk sapi simental dan 0,8 kg/hari sapibali.

Lantaran harga molase dan kedelai terus meningkat, belakangan dilakukan perubahan komposisi dengan mengurangi persentase kedua bahan itu. ‘Molase dari 23-29% dikurangi menjadi 10% dan bungkil keledai sebesar 13-15% menjadi 3-5%,’ kata Ir Suharyono, M.Rur SCi, peneliti senior kelompok nutrisi ternak Batan. Dari hasil pengujian menunjukkan pengurangan molase dan kedelai tetap mampu menaikkan bobot sapi. Pemberian suplemen pakan itu sebanyak 0,25-0,5 g per hari membuat bobot sapi simental naik sebesar 0,8 kg dan sapi bali 0,75 kg.

Selain bobot meningkat, pakan yang terserap sempurna dapat menekan gas metan yang dikeluarkan sapi. Itu lantaran mikroba dalam rumen berkerja optimal mencerna pakan. ‘Dari 23% metan fermentasi yang dikeluarkan ruminansia, sebanyak 73% berasal dari sapi,’ kata Suharyono. Namun, dengan pemberian suplemen pakan itu, kadar metan turun sebesar 65%. Itu artinya pemanasan global pun bisa ditekan berkat kehadiran pakan dari limbah sawit. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber : http://www.trubus-online.co.id

Pengolahan air dengan ion-exchange di Industri

Air untuk industri akhir-akhir ini menjadi isu besar dan menjadi salah satu kriteria dalam menentukan lokasi suatu industri akan dibangun, pada era 80-an sumber-sumber air mudah didapat namun kondisi saat ini jauh berbeda, sumber air semakin susah ditemukan ini ditengarai air permukaan yang kualitas dan kuantitasnya semakin terbatas ditambah dengan proses ijin untuk menggunakan sumber dari sumur dalam (deep well) semakin susah didapat. Belum lagi isu lingkungan turut menjadi pertimbangan dalam pemberian ijin eksploitasi sumber air untuk industri.

Tentunya bagi industri yang banyak melakukan kegiatan ekspor impor pasti akan memilih lokasi dekat dengan pelabuhan guna memudahkan kegiatan operasi mereka, termasuk didalamnya industri berbasis minyak sawit termasuk pabrik minyak dan lemak makanan, oleochemical dan biodiesel. Industri berbasis minyak sawit ini menjadi efisien apabila kriteria pokok pendirian pabrik dapat dipenuhi termasuk utilitas, process water, energi serta jaringan transportasi yang memadai untuk menunjang kegiatan produksi serta ekspor produk.

Ada beberapa sumber air yang biasanya dipertimbangkan untuk menjadi sumber air utama seperti air permukaan, sungai, waduk atau dari sumber air dalam, deep well sementara desalinasi air laut kurang favorit kerena selain biayanya mahal juga dampak lingkungannya ynag cukup merepotkan. Apapun sumber yang akan digunakan sebagai sumber air industri, maka air baku perlu dikondisikan dengan mengolah terlebih dahulu melalui water treatment yang memadai, termasuk penggunaan kolom ion exchange.

Karakter air dan penggunaannya.

Air proses atau biasa kita kenal sebagai process water memiliki fungsi yang berbeda satu sama lainnya, oleh karena itu karakter serta spesifikasi air yang diperlukan juga berbeda satu dengan yang lain, misalnya standar air untuk boiler tentu berbeda dengan standar air untuk produksi hydrogen.

Ada beberapa peralatan proses yang membutuhkan air secara terus-menerus dan dengan sifat tertentu, seperti :

1.
Air proses (Process Water) untuk hydrolysis, boiler dan destilasi. Kebutuhan process water untuk boiler, hydrolisis serta produksi H2, dimana diperlukan air yang terlebih dahulu di oleh melalui ion exchange untuk meminimalisir timbulnya karat serta sumbatan pada pipa api dan jalur distribusi uap dan kondensatnya. Produk air yang dihasilkan melalui ion exchange kemudian disebut sebagai soft water bahkan untuk produksi hydrogen diperlukan demineralized water (demin water) agar H2 yang diproduksi betul-betul 99,9 % murni.
2.
Air untu pendingin (Cooling Water) pada cooling tower, mesin, heat exchanger, condenser dll. Kebutuhan akan air pendingin (cooling water) bisa di kategorikan kebutuhan umum dalam setiap mesin penggerak, pengolahan air pendingin biasanya kurang diperhatikan oleh operator pabrik karena persepsi yang salah dimana setiap air bersuhu rendah bisa digunakan. Tetapi mereka lupa bahwa air pendingin disalurkan melalui pipa-pipa yang diameternya terkadang cukup kecil, panjang dan melingkar-lingkar sehingga rawan terhadap karat dan sumbatan tentunya.
3.
Air untuk kebutuhan domestik dan umum. Air yang akan digunakan sebagai air untuk keperluan domestik seperti memasak, toilet dan cuci-cuci lain biasanya digunakan air dari sumber terdekat seperti Perusahaan air Minum (PAM) lokal maupun dari sumber sumur dalam. Pengolahan biasanya dilakukan secara terbatas seperti penjernihan dan aerasi terutama untuk mengurangi kadar besi yang biasanya berasosiasi dengan air dari sumber sumur dalam (deep well).
Sumber air baku industri yang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah kebutuhan air dan sifat yang diperlukan untuk keperluan proses dan sebagai pendingin pada cooling tower di pabrik.Ion Exchange untuk Process dan Cooling.

Kebutuhan untuk air proses dan pendinginan sangat mendominasi kebutuhan air untuk pabrik karena lebih dari 80% kebutuhan akan air di pabrik dikonsumsi oleh kedua proses tersebut, sementara untuk kebutuhan domestik relatif kecil.

Penggunaan kolom atau tabung ion exchange untuk air baku untuk boiler (boiler feed water)dan sistim pendinginan (cooling system) akan meningkatkan efisiensi kedua sistim peralatan tersebut dengan cara membebaskan pipa-pipa saluran air dan uap pada sistem tersebut dari karat dan endapan yang mengganggu yang dapat menimbulkan kebocoran maupun tersumbatnya saluran pada kedua sistim tersebut.

Pabrik kelapa sawit (PKS), kernel crushing plant (KCP), pabrik minyak goreng dan oleochemical adalah pabrik-pabrik yang banyak menggunakan prinsip thermodinamik pada proses produksinya terutama pada sistim fraksinasi dan destilasi dari bahan baku menjadi produk. Peralatan yang digunakan pada proses, hidrolisa, fraksinasi, dan destilasi pada dasarnya adalah ketel uap bertekanan yang semuanya menggunakan air sebagai media dan bahan baku pada proses mereka.

Boiler untuk menghasilkan uap baik basah, kering maupun yang bertekanan menurut kebutuhan prosesnya, selain digunakan sebagai media thermodinamik, uap yang dihasilkan juga dapat digunakan untuk menggerakkan turbin pada generator listrik. Penggunaan boiler sebagai peralatan utama membawa konsekuensi pada pemilihan kualitas air baku (feed water) untuk menjaga kontinyuitas operasi serta efisiensi peralatan tersebut, secara umum untuk menjaga agar boiler bisa bekerja dengan maksimum serta awet maka diperlukan air yang baik dalam arti air selalu dijaga agar tidak menjadi penyebab sistem saluran pipa pada boiler menjadi berkarat ataupun tersumbat oleh endapan-endapan organik yang biasanya dibawa oleh air baku.

Cara kerja dan aplikasi ion exchanger

Pada dasarnya cara kerja kolom ion exchange adalah penukaran ion muatan listrik yang dibawa oleh fluida dengan muatan ion pada resin yang tersedian didalam tabung ion exchanger. Secara umum fungsi kolom ion exchange digunakan sebagai media purifikasi dan filtrasi muatan ion mineral pada fluida yang tidak dikehendaki seperti Calcium dan Magnesium dan menukarnya dengan Potasium dan Hydrogen, sehingga fluida yang keluar dari kolom tersebut memenuhi kriteria yang kita kehendaki.

Ion Exchange sebagai water softening

Aplikasi ion exchanger sebagai water softener merupakan fungsi umum dan digunakan sangat luas di industri yang memerlukan soft water untuk proses dan bahan baku boiler . Air baku yang tingkat ke-sadahan-nya (hardness) tinggi karena kandungan kalsium dan magnesium harus diturunkan dengan cara menggantikannya dengan muatan ion sodium yang terdapat pada resin.

Proses pertukaran ion terus berjalan sampai tercapai equilibrium dan jenuh dan sesudah kondisi resin jenuh maka segera dilakukan re-generasi dengan dicuci dengan air yang mengandung garam NaCl tinggi. Soft water digunakan untuk boiler feed water guna mencegah terjadinya endapan (scaling) pada pipa saluran air baik pada sistim boiler maupun pada sistim pendingin.

Sebagai media purifikasi

Dalam hal penggunaan media ion exchange sebagai purifier misalnya untuk mengangkat bahan- bahan beracun yang dibawa oleh fluida tertentu, maka ion exchanger dapat mengambil ion-ion logam berat seperti Cadmium, Lead dan Copper dan menggantikannya dengan ion-ion garam sodium dan potassium. Ada jenis resin ion exchange lain yang dapat menyaring kontaminan organik air baku dengan menambahkan karbon aktif pada kolom ion exchange tersebut.

Pemilihan jenis resin akan menentukan fungsi ion exchange pada pabrik yang menggunakannya sebagai water softening, sebagai media filtrasi logam berat fluida tertentu maupun sebagai penyaring mineral pada air baku.

Sumber : http://www.infosawit.com

Perjuangan Petani Sawit, Perjuangan Seimbangkan Lingkungan

Pertemuan 50 petani kelapa sawit Indonesia dan Papua Nugini yang membicarakan posisi mereka dalam rantai produksi sawit, Senin (17/11) di Grand Hyatt, Nusa Dua merupakan bagian dari perjuangan menjaga alam ini tetap seimbang.

Lebih dari itu, pertemuan pendahuluan Task Force on Smallholders (Kelompok Kerja Petani Kecil) sebelum sesi utama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini membuka ruang bagi petani untuk masuk ke dalam proses produksi dan menempatkan mereka setara dengan kelompok lainnya dalam proses sertifikasi.

”Kami berharap pertemuan hari ini dapat memastikan Prinsip dan Kriteria yang ditetapkan  RSPO sesuai untuk situasi para smallholder yang rumit dan beragam sesuai situasi yang dihadapi,” jelas Norwan Jiwan, peneliti dari Sawit Watch yang memfasilitasi pertemuan ini.

Standar generik yang ditetapkan RSPO dipandang oleh ketua-ketua Gugus Tugas tidak  praktis. “Menurut kami panduan generik tentang smallholder harus dihentikan, sampai dengan ada modalitas yang disepakati untuk sertifikasi kelompok smallholder mandiri dan telah diuji coba untuk melihat apakah sesuai dengan realitaS smallholder

“Bagi kami petani, tidak mudah untuk memiliki dokumentasi yang sama untuk diperiksa oleh auditor.” Papar  Cion Alexander, Petani Sawit Kalbar. Tantangan utama Sertifikasi diantaranya bagaimana mengembangkan protocol, bagaimana berkomunikasi dengan petani sawit tentang hal ini, bagaimana mengorganisirnya dan apa saja persyaratan yang diperlukan untuk melakukan pemasaran gabungan.

Jiwan menegaskan, pendekatan sertifikasi yang ditetapkan RSPO harus berdasarkan pada pendekatan pabrik dan sumber penyedia bahan mentah. ”Perlu dibedakan dengan pendekatan lain, dengan pendekatan ini, artinya apa pun materi yang masuk ke dalam pabrik harus dapat dilacak dari mana asalnya” jelasnya lagi.

Dalam pertemuan ini petani membahas isu yang dihadapi sehari-hari dan memahami bagaimana dunia melihat posisi petani sawit.” Situasi yang dihadapi petani sawit alami tidak lepas dari kepentingan pasar,  seperti saat ini harga turun karena kepentingan pasar sangat dominan.” tambah Jiwan.

Diskusi dalam Gugus Tugas Petani meninjau kembali kesesuaian Prinsip dan Kriteria yang dikeluarkan oleh RSPO untuk petani (smallholder) dan memformulasikan usulan yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi petani secara.

”Kalau prinsip dan kriteria sesuai dengan kondisi kami, bisa dipastikan masin banyak petani sawit yang dapat terlibat langsung dalam produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan.” tambah Tereng lagi.

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)  merupakan prakarsa yang dibentuk para pelaku bisnis, yang terlibat dalam produksi, pemrosesan dan penjualan minyak kelapa sawit bersama LSM lingkungan dan sosial sebagai tanggapan atas kritik bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan penyebab utama penggundulan hutan dan prosesnya seringkali tidak mempedulikan hak-hak, sumber penghidupan atau kesejahteraan dan hak-hak para pekerjanya dan petani plasma (smallholder).

Sumber : Kompas.com

Menyuburkan Lahan Gambut dengan Mikroba

Pembuatan kanal di lahan proyek lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah justru membuat kerusakan lahan gambut yang parah. Akibatnya, kebakaran hutan saat musim kemarau sering terjadi.

Jumat, 14 November 2008 | 22:05 WIB

JAKARTA, JUMAT – Pemanfaatan lahan di Indonesia sejak dulu telah salah arah. Lahan subur, terutama di Jawa, tak terbendung terus berubah fungsi ke nonpertanian. Sementara itu, kebutuhan pangan yang terus meningkat memaksa pemanfaatan lahan kering dan marginal yang umumnya di luar Jawa. Di sinilah rekayasa teknologi berperan untuk mengubahnya menjadi lahan subur. Salah satu yang kini gencar disasari adalah lahan gambut.

Dalam ASEAN-China Workshop on the Development of Effective Microbial Consortium Poten in Peat Modification di Jakarta, Senin (10/11), tim peneliti mikroba dari Pusat Teknologi Bioindustri BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), yang diketuai Gatyo Angkoso, melaporkan keberhasilan mereka menyuburkan lahan gambut dengan menambahkan limbah selulosa dari perkebunan kelapa sawit dan memasukkan secara bersamaan beberapa jenis isolat mikroba tertentu.

Perlakuan ini dapat mengurangi tingkat keasaman atau menaikkan pH lahan gambut dari rata-rata 3,5 menjadi 5,5, jelas Direktur Pusat Teknologi Bioindustri, Koesnandar, yang juga terlibat dalam riset tersebut, di Rasau dan Siantan, Kalimantan Barat. Selama ini lahan gambut secara alami memang tidak subur karena memiliki keasaman tinggi atau kebasaannya (pH) rendah, antara 2,8 dan 4,5. Sifat lain lahan gambut yang tidak menguntungkan adalah nilai kapasitas tukar kation dan kandungan organik yang tinggi.

Penyuburan lahan gambut dilakukan dengan memasukkan konsorsia atau beberapa kelompok mikroba. Dijelaskan Diana Nurani, peneliti, riset yang dilakukan sejak tahun 2006 berhasil diisolasi puluhan mikroba di dua daerah di Pontianak itu. Dari puluhan ditemukan empat kelompok mikroba yang memiliki kinerja yang baik dalam meningkatkan kebasaan lahan gambut.

Ditambahkan Koesnandar, mikroba itu ditemukan di lahan gambut, pada limbah kelapa sawit, dan kotoran sapi. Dari efeknya pada tanah gambut, konsorsia mikroba itu bersimbiosa mutualisme. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk meneliti peran dan karakteristik masing- masing mikroba.

Aplikasi empat kelompok mikroba pada tanah gambut selain dapat meningkatkan pH, juga terbukti memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan mineral. Keuntungan lainnya adalah mengganti cara konvensional, yaitu pembakaran yang biasa dilakukan petani di lahan gambut untuk meningkatkan pH tanah gambut.

Indonesia memiliki kawasan gambut keempat terluas di dunia, yakni 20,6 juta hektar. Peringkat pertama adalah Kanada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Lahan gambut di Indonesia terbanyak dijumpai di Sumatera (35 persen), Kalimantan (30 persen), dan Papua (30 persen). (YUN)

Sumber : Kompas Com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: