Penyakit daun bibit di bibitan kelapa sawit yang sering juga disebut dengan nama antraknosa, adalah nama kolektif beberapa jenis penyakit di bibitan. Penyakit bibitan terutama terjadi pada pada bibit muda sampai berumur 3 bulan, atau pada bibit bibit yang baru dipindah dari pre nursery ke polybag normal.
Jika ditemukan bibit terserang berat ini menunjukkan bahwa persiapan dan perawatan bibit tidak mengikuti standar yang dianjurkan.

A. PENYEBAB PENYAKIT DAN GEJALA
Pada umumnya ada enam pathogen yang terlibat pada penyakit daun di bibitan, tetapi pada bibitan Lonsum biasanya hanya 2 jenis pathogen berbeda yang biasa menyerang daun yaitu: Botryodiplodia dan Culvularia. Sangat sulit untuk membedakan gejala dari beberapa macam jamur di lapangan. Mengidentifikasi pathogen secara pasti dibutuhkan pengamatan microscopic. Gejala dari setiap jamur penyebab penyakit di bibitan adalah sebagai berikut.

1. Botryodiplodia
Bercak daun dimulai dari ujung daun. Becak-becak kecil dan transparan dan mudah dimonitor dengan penembusan sinar matahari. (Gb 1)
Bahagian tengah dari bercak menjadi kelabu atau coklat gelap kertas dengan banyak titik hitam. mewakili tubuh buah (picnidia) dari jamur tersebut.

2. Culvularia
Mula-mula pathogen ini menyerang daun pupus yang belum membuka atau dua daun yang termuda yang sudah membuka.
Gejala pertama adanya becak bulat kecil, berwarna kuning tembus cahaya, yang dapat dilihat pada kedua sisi permukaan daun. Bercak kecil menjadi membesar tetapi tetap bulat dan warnanya sedikit demi sedikit berubah jadi coklat muda. Pusat becak-becak jadi mengendap. Bahagian becak menjadi coklat tua dikelilingi halo berwarna jingga kekuningan. Dengan infeksi berat daun paling tua akan mengering, menjadi keriting rapuh, namun becak tetap berwarna coklat tua. Penyakit ini dapat menghambat partumbuhan bibit tetapi tidak mematikan bibit. (Gbr 2)

3. Drechslera halodes
Mula-mula timbul pada pupus atau daun pertama yang baru saja membuka, terbentuk becak kecil hijau pucat, lalu menjadi hijau jernih yang dikelilingi halo lebar berwarna hijau kekuningan dan tidak berbatas tegas. (Gb 3) Ditengah bercak dapat dilihat satu titik berwarna coklat. Bercak-bercak ini dapat bersatu dengan bentuk tidak teratur, berwarna hitam kelabu.

4. Helminthosporium
Cendawan ini menunjukkan gejala-gejala yang berbeda. Kadang-kadang menghasilkan bercak kecil, berwarna coklat, tidak disertai dengan klorosis, dan bercak tidak membesar. Bagaimanapun dia dapat juga menyebabkan bercak memanjang.

B. DAUR PENYAKIT

  • Pathogen penyakit daun terdapat dimana-mana.
  • Infeksi dimulai dari ujung atau tepi daun Penyakit kemudian menyebar dari daun-daun terinfeksi ke daun-daun sehat.
  • Infeksi dapat terjadi dengan pencaran oleh air waktu hujan dan penyiraman bibit.

C. FAKTOR MEMPENGARUHI PENYAKIT

  • Infeksi akan lebih mudah terjadi jika ada pelukaan pada daun.
  • Daun terserang oleh tungau atau kutu biasanya diikuti oleh infeksi.
  • Penyakit meningkat karena kelembaban tinggi, terlalu banyak penyiraman, naungan yang terlalu berat dan jarak tanam bibit yang terlalu rapat.
  • Kandungan nitrogen tinggi dan kekurangan hara akan mempercepat serangan penyakit.
  • Pembibitan dengan perawatan optimal sangat jarang terserang oleh penyakit.
  • Beberapa faktor yang menyebabkan penyakit
  • Transplanting shock saat di pindahkan dari prapembibitan ke pembibitan utama atau dari pembibitan utama ke lapangan, dapat mengurangi ketahanan bibit, mungkin juga terjadi kerusakan akar.
  • Bibit terlalu lama di prapembibitan juga akan terkena penyakit.
  • Keadaan hara yang tidak seimbang. Kekurangan nitrogen dan magnesium akan mengurangi ketahanan bibit. Bibit yang ditanam ditanah gambut sangat rentan terhadap penyakit ini.
  • Kekurangan air dalam polybag akan menyebabkan bibit lebih rentan terhadap penyakit, khususnya pada waktu kelembaban udara tinggi.
  • Antara bibit-bibit terdapat perbedaan genetic Bibit yang lebih lambat pertumbuhannya akan lebih rentan terhadap penyakit ini.

C. PENGENDALIAN PENYAKIT

  • Patogen tidak akan menyerang bibitan jika persiapan pembibitan dilaksanakan secara baik.
  • Untuk menghindari pelukaan pada daun oleh serangga seperti tungau dan kutu, maka serangga ini harus dikontrol
  • Jika ada ledakan serangan penyakit di bibitan, harap ikuti rekomendasi di bawah ini:
  • Untuk mengurangi infeksi, semua sumber atau daun-daun yang sudah busuk digunting dan dimusnahkan atau dibakar.
  • Bibit yang terserang berat harus disingkirkan dari pembibitan dan dimusnahkan.
  • Jika bibit-bibit di pre nursery sudah terserang berat, maka bibit-bibit ini harus segera dipindahkan ke pembibitan utrama.
  • Jika penyakit masih terus berkembang, pemberian fungisida harus dilakukan seperti dibawah ini:
  • Kedua fungisida diatas harus dipakai secara bergantian dengan interval 1 minggu yang disemprotkan ke daun selama 4 minggu. Jika serangan pada daun muda atau daun yang belum membuka sudah menurun, maka interval penyemprotan dapat diturunkan menjadi 10 hari sekali.
  • Pemberian fungisida harus dihentikan jika daun tombak atau daun yang baru membuka sudah bebas dari pathogen-patogen.

Sumber : http://agrodanbisnis.blogspot.com

About these ads